Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Harga Solar Tinggi, Ratusan Nelayan di Samarinda Melaut dengan Terpaksa

Eko Pralistio • 2024-10-29 11:00:00
JERITAN SOLAR SUBSIDI: Deretan kapal nelayan yang parkir di tepi Sungai Karang Mumus, Samarinda. (FOTO: EKO)
JERITAN SOLAR SUBSIDI: Deretan kapal nelayan yang parkir di tepi Sungai Karang Mumus, Samarinda. (FOTO: EKO)

Hampir dua tahun ini, ratusan nelayan di Samarinda menjerit. Mereka kesulitan mendapatkan solar subsidi setelah SPBB di tepi Sungai Mahakam, Kampung Ketupat, Samarinda Seberang ditutup. Akibatnya biaya operasional membengkak, dan harus gerilya mencari solar hingga ke Sulawesi.

Kesulitan nelayan yang terjadi di ujung pemerintahan Presiden Jokowi tersebut berbeda dengan zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dulu, solar sulit didapatkan tapi di eceran atau pasar ilegal harga masih terjangkau. Sekarang, solar subsidi sulit didapatkan atau kalau pun dapat harga mendekati Rp 11.500 untuk wilayah Samarinda dan Kutai Kartanegara. 

Kondisi yang dialami nelayan di Samarinda, ternyata berbeda dengan yang ada di kabupaten/kota lainnya di Kaltim. Seperti Balikpapan, Kutai Kartanegara, Berau hingga Kutai Timur tidak pernah terdengar ada masalah nelayan kesulitan mendapatkan solar subsidi.

Yeyen Borneo, Ketua KTN Samarinda mengungkapkan, sejak penutupan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di tepi Sungai Mahakam, Kampung Ketupat, Samarinda Seberang, pada 2022 lalu, nelayan kesulitan memperoleh solar bersubsidi.

"Sekarang sulit sekali. Kami terpaksa membeli solar dengan harga Rp 11.500 per liter. Perbandingannya jauh dengan harga normal,” ujar Yeyen saat ditemui di kapalnya, Minggu (27/10).

Solar bersubsidi sebenarnya dibanderol Rp 6.500 per liter, hampir setengah dari harga yang saat ini harus dibayar para nelayan. Ketiadaan akses ke harga subsidi membuat mereka berada di posisi sulit.

“Kalau nggak beli, bagaimana kami mau melaut?” lanjut Yeyen dengan nada cemas. Dia menyebut, wilayah Samarinda punya dua kelompok nelayan. Satu lagi berada di Samarinda Seberang, mempunyai anggota sekitar 25 kapal. Sedangkan KTN membawahi 10 kapal. Total sekitar 35 kapal tersebut mempunyai spesialis pencarian ikan tongkol hingga tuna. Rata-rata setiap per 2 minggu membawa pulang 1,5 ton ikan. 

35 kapal tersebut lanjut dia, menjadi andalan warga Samarinda dalam mendapatkan pasukan kebutuhan ikan setiap hari. Tempat mereka melempar ikan hasil tangkapan adalah di pelelangan Samarinda atau TPI Selili. Masing-masing kapal rata-rata diisi 3 sampai 4 orang. "Idealnya 3 orang. Namun pada beberapa kapal terkadang bisa sampai 4 orang," ucap ayah 4 anak ini. 

Sejak SPBB terapung di Samarinda tutup, para nelayan mencari BBM di berbagai tempat di Kaltim, bahkan hingga ke Sulawesi. Sebenarnya di Sungai Meriam, Kabupaten Kutai Kartanegara ada SPBB resmi untuk nelayan. Namun untuk nelayan Samarinda tidak tidak dilayani karena untuk lokal Sungai Mariam dan sekitarnya saja sudah tidak mampu terlayani SPBB tersebut. 

Usaha lain, Yeyen menyebut, ketika sedang berlayar mencari ikan di kawasan Sulawesi adalah mencari solar di wilayah Sulawesi Tengah atau Sulawesi tenggara. Harga Memang jauh lebih murah, tapi perjalanan menuju ke sana juga lumayan jauh. Bisa mencapai 8 jam dari titik pencairan ikan di Selat Makassar.

Terkadang nelayan Samarinda mencari peruntungan membeli solar di Balikpapan karena bisa mendapatkan harga lebih murah. Namun solar subsidi tersebut tidak selalu ada. "Kami harus mengalah dengan nelayan teman-teman Balikpapan. Tentu mereka yang didahulukan, kami hanya membeli sisa jatah dari teman-teman," sebutnya.

 
 
 
Editor : Indra Zakaria