PROKAL.CO, TANJUNG REDEB - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) berencana mengubah konsep wisata di Maratua dan Kakaban, Kabupaten Berau.
Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Akmal Malik mengatakan, kedua ikon wisata Berau itu bakal diubah menjadi wisata premium.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Ilyas Natsir, bahwa saat ini pun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau juga terus berbenah.
Ia mengamini rencana Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik sebagai suatu hal yang bagus. Terlebih, konsep tersebut sudah terpetakan oleh Disbudpar Berau.
“Ya itu luar biasa, itu sebuah ide yang luar biasa, kita sudah konsepkan juga,” terangnya Kamis (31/10).
Untuk mengiringi rencana itu, Disbudpar Berau juga terus meningkatkan hal-hal penunjang, satu di antaranya yang terpenting adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Baca Juga: Mantap, Diskominfo Berau Sudah Pasang Starlink di 10 Titik, Tahun Depan Minta 30 Titik Lagi
Kata Ilyas, salah satu komponen penting dalam peningkatan kapasitas SDM, adalah pembelajaran atau pelatihan kemampuan komunikasi menggunakan bahasa asing.
Ini karena Maratua, Derawan bahkan Kakaban adalah objek wisata yang menjadi tujuan wisatawan asing, maka komunikasi menggunakan bahasa internasional harus dikuasai.
“Yang perlu adalah peningkatan SDM, yang kami lakukan adalah melatih masyarakat bisa berkomunikasi dengan wisatawan menggunakan bahasa asing,” terangnya.
Ilyas mengakui, masyarakat kini sudah lebih sadar, bahwa pariwisata adalah subjek yang tidak akan mati dimakan zaman. Sehingga, saat ini ada juga pemerintah kampung secara mandiri melaksanakan pelatihan untuk peningkatan kapasitas SDM.
Ilyas menilai, kesadaran pemerintah kampung dan masyarakat sudah menjadi indikator baik, bahwa pemanfaatan pariwisata, itu cukup berdampak kepada masyarakat di Berau.
berau
Baca Juga: Asyik, Kemenhub Keluarkan Izin Terbang Rute Berau-Bali, Menunggu Maskapai yang Berminat
Selain peningkatan kapasitas SDM di Berau, Ilyas juga menyebut, nantinya akan ada konsep pembatasan kunjungan wisatwan. Misalnya di Pulau Kakaban.
Ini karena destinasi ini merupakan warisan leluhur dan anugerah dengan adanya empat spesies ubur-ubur tidak menyengat yang menjadi andalan wisatawan.
Namun sayang, karena kunjungan yang sebelumnya membeludak, justru mengancam keberadaan ubur-ubur itu. Tentu, pembatasan wisatawan ini akan menjadi branding baik, selain menjaga ekosistem biota laut tetap terjaga kelestariannya.
Diketahui, Pemprov Kaltim tengah memoles pesona Pulau Maratua dan Kakaban di Kabupaten Berau.
Menggandeng Pemkab Berau, dua permata yang ada di Bumi Battiwakal tersebut digadang-gadang bakal menjadi kawasan wisata premium bertaraf internasional.
Pemprov pun berhati-hati dalam memastikan daya tampung dan daya dukung dua gugus pulau di wilayah Kaltim itu tetap terjaga.
“Dukungan dari masyarakat di Maratua sangat diperlukan. Karena itu perlu mencari tahu hal ideal bagi masyarakat di sana,” ungkap Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik dalam lawatannya ke Berau.
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Lokal dan Mancanegara ke Berau Naik Terus, tapi Sayang
Monitoring pengembangan Maratua dan Kakaban ini ditempuh berkala agar segala aspek yang diperlukan menjadi kawasan wisata premium terpenuhi, dari infrastruktur yang ramah lingkungan, pengelolaan limbah, hingga pembatasan jumlah wisatawan.
Dengan begitu, ekosistem di kedua pulau itu bisa terawat dan mampu mengangkat keduanya sejajar dengan destinasi kelas internasional.
Memang, diakui Akmal, menjadikan keduanya sebagai wisata premium bisa membuat dompet para pelancong sedikit menjerit.
“Meski harga terbilang tak murah, namun apa yang dihadirkan Maratua dan Kakaban jelas bukan barang murahan,” katanya.
Berkaca dari pengalaman yang sempat heboh akhir 2023, ketika ubur-ubur di laguna purba yang ada di Kakaban menghilang. Membatasi jumlah pengunjung jadi opsi terbaikagar keindahan alam yang jadi daya tarik tetap terawat.
Pariwisata yang terbuka untuk umum seringkali berujung menimbulkan gangguan ekosistem, salah satunya kerusakan terumbu karang.
Memastikan kondisi riil dari ekosistem di Kakaban usai kejadian itu, Akmal mengatakan, Pemprov bekerja sama dengan sejumlah peneliti dari Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, untuk mengetahui penyebab migrasinya ubur-ubur tersebut.
Dengan hasil penelitian yang komprehensif, Pemprov dapat memastikan alam bagi keberlangsungan empat jenis ubur-ubur tanpa sengat yang ada di atol Kakaban dapat terawat.
Tentunya, lewat upaya membangun pesona wisata ekslusif ini diharapkan banyak menarik kegiatan serupa.
“Karena ini bukan sekadar membangun destinasi, tapi juga tentang warisan untuk anak-cucu nantinya,” katanya. (sen)
Editor : Faroq Zamzami