PENAJAM — Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyambut antusias Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih. Arahan yang ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada 27 Maret 2025 itu menjadi tonggak penting dalam membangkitkan kembali semangat koperasi sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) PPU, Margono Hadi Sutanto, menilai kehadiran Koperasi Merah Putih bukan hanya solusi ekonomi, tetapi juga alat edukasi sosial yang relevan untuk generasi muda.
“Kalau kita bicara koperasi, sebenarnya semua bisa dikerjakan lewat koperasi. Tapi sekarang, banyak anak muda yang bahkan tidak tahu lagi apa itu koperasi. Ini momentum kita untuk memperkenalkannya kembali,” ujar Margono, Jumat (25/4/2025).
Ia menyayangkan bagaimana tren di kalangan anak muda lebih condong pada bentuk usaha seperti PT atau startup karena dinilai lebih modern dan fleksibel. Padahal, koperasi memiliki kekuatan utama yang tak tergantikan: semangat kolektif, solidaritas, dan asas kebersamaan yang berakar kuat di masyarakat Indonesia.
“Melalui Koperasi Merah Putih, kami ingin menghidupkan kembali budaya gotong royong di era digital. Ini bukan hanya tentang bisnis, tapi membangun kekuatan ekonomi yang tumbuh dari bawah, dari desa, untuk desa,” tegasnya.
Margono mengungkapkan, koperasi Merah Putih yang akan dibentuk di desa-desa dan kelurahan se-PPU akan dirancang multifungsi: sebagai lembaga simpan pinjam, pusat distribusi sembako, tempat pemasaran produk lokal, hingga ruang pelatihan usaha bagi pemuda desa.
“Bayangkan jika tiap desa punya koperasi yang aktif. Itu benteng ekonomi yang kuat. UMKM bisa tumbuh, warga punya akses belanja dan pembiayaan yang lebih adil, dan keuntungan usaha kembali ke anggota, bukan keluar ke kota atau korporasi besar,” jelasnya.
Saat ini, Dinas KUKM Perindag tengah memetakan wilayah yang siap menjadi percontohan dan menyiapkan program pembinaan koperasi secara menyeluruh, termasuk edukasi koperasi sejak usia sekolah hingga pemuda desa.
“Kita ingin menanamkan bahwa koperasi itu keren. Anak muda harus tahu, ini bukan model lama yang ketinggalan zaman, tapi sistem ekonomi modern yang bisa membangun masa depan mereka,” tutup Margono. (kim/adv)
Editor : Wawan