Tahun 2012 KRI Dewaruci kembali mencatatkan sejarah keliling dunia untuk kedua kalinya. Kesuksesan KRI Dewaruci saat itu tak lepas dari peran Laksamana Pertama TNI Haris Bima Bayuseto, S.E, M.Si, yang saat itu menjabat sebagai komandan KRI Dewaruci (2011-2013). Kedatangan KRI Dewaruci ke Tarakan pun membawa nostalgia bagi Danlantamal akan kapal ikonik kebanggaan Indonesia itu.
Eliazar
PADA 15 Januari 2012 lalu, KRI Dewaruci meninggalkan Surabaya, Jawa Timur. Dilepas untuk mengelilingi empat benua, Amerika mulai Kepulauan Marshall, Amerika Serikat, Meksiko, Panama, dan Kanada. Kemudian Benua Eropa, yakni Portugal, Spanyol, dan Malta. Lalu melintasi Benua Afrika di Mesir, dan kembali ke Asia melalui Arab Saudi, Oman, Sri Lanka, dan berlanjut ke Indonesia.
Kapal yang dilengkapi 16 layar itu keliling dunia dengan komandan kapal Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto. Pria yang saat ini menjabat sebagai komandan Lantamal XIII Tarakan. 17 Oktober 2012, kapal layar tiga tiang tinggi itu kembali ke Kota Pahlawan -julukan Surabaya- menuntaskan misi pelayaran terpanjangnya selama 277 hari. Lebih dari 9 bulan kapal latih TNI AL itu mengelilingi dunia dengan menempuh jarak 29 ribu mil laut (53 ribu kilometer).
Kini KRI Dewaruci berlabuh di dermaga Lantamal XIII Tarakan. Dewaruci membawa taruna AAL dalam rangka Lattek Prajalasesya, yaitu pengenalan pelayaran bagi taruna dan taruni AAL Tingkat I Angkatan LXIX 2021 yang masuk dalam Prolakdik AAL 2021. Danlamal XIII Tarakan Laksamana Pertama TNI Haris Bima Bayuseto, S.E, M.Si, pun bernostalgia.
“Saya lihat kapalnya masih sangat terjaga, karena memang lautan kita kadar garamnya tinggi,” ungkapnya.
Baginya, personel TNI AL yang pernah berlayar bersama Dewaruci merupakan prajurit pilihan. Bahkan sering dikenal dengan kapal yang kental dengan nuansa Indonesia. Para prajurit TNI AL pun harus bisa menunjukkan kebudayaan Indonesia, saat berlayar bersama Dewaruci ke luar negeri. Dari beberapa ukiran kayu di Dewaruci pun sudah menunjukkan identitas bangsa Indonesia.
“Saya di kapal ini pertama kali pada tahun 2001 hingga 2004 dengan pangkat kapten. Kemudian tahun 2011 hingga tahun 2013 jadi komandan kapal. Jadi kalau ditotal 6 tahun,” tuturnya.
Melihat ketiga tiang yang ada di Dewaruci, Haris mengenang bahwa ia sering bersaing dengan awak kapal dalam hal memanjat tiang. Bahkan tidak sampai 2 menit, ia bisa mencapai puncak tiang. Menurutnya, ketiga tiang itu tidak hanya sebagai penopang layar saja, namun memiliki makna yang mendalam.
Untuk tiang paling depan, lanjut Haris, dinamakan Bima yang berarti paling kuat. Tiang kedua dinamakan Arjuna lantaran berada di posisi tengah. “Kalau di paling belakang itu namanya Yudhistira, yaitu paling tua. Jadi karena abang itu tua makanya dia harus di belakang adik-adiknya,” sebut pria berpangkat bintang satu itu.
Haris menceritakan, ia pernah membawa Dewaruci dalam kompetisi race kapal layar. Saat itu Dewaruci mengikuti race kapal layar dari Orlando ke New York dan sempat mengalami mati angin. Namun Haris saat itu memprediksi bahwa akan ada angin dua hari lagi. Sehingga kapal lain mengambil jalur ke Selatan dan Dewaruci tetap melalui jalur ke utara.
“Benar pada hari ketiga ada angin. Sehingga kapal yang ke selatan tidak dapat mengejar kita. Sehingga kita juara satu di kelas kapal besar,” katanya.
Pengalaman paling berkesan yang dirasakan Haris saat membawa Dewaruci keliling dunia, salah satunya pernah kehabisan bahan bakar saat menuju ke Hawaii. Tak tanggung-tanggung Dewaruci dihantam ombak besar hingga 11 meter. Hal itu terjadi selama 5 hari. Misi keliling dunia hampir saja ia kubur dalam-dalam. Lantaran sempat disarankan untuk kembali ke Indonesia jika tidak mampu. “Saat itu saya kumpulkan anggota dan mereka mengatakan, komandan kita yakin kalau kita bisa bergerak,” pungkasnya.
Tidak hanya misi keliling dunia, namun Haris juga sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia ke setiap negara yang dikunjungi. Maka semua ABK harus bisa menari tarian daerah yang di Indonesia. Alhasil semua warga negara asing (WNA) sangat senang melihat aksi pertunjukan tersebut.
“Saya alami sendiri kalau mereka (WNA) mengatakan apakah ini benar orang Indonesia, saya katakan iya. Mereka pikir Indonesia negaranya kacau, padahal kan tidak, dan orangnya ramah-ramah. Bahkan kita salat Jumat pun mereka foto. Dengan begitu kita membawa kalau Indonesia sebagai negara yang sangat ramah,” pungkasnya. (***/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan