TARAKAN – Tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltara, Bandara Juwata Tarakan, dan Bea Cukai Tarakan, sepanjang tahun ini berhasil menghentikan penyelundupan puluhan kilogram narkotika jenis sabu-sabu.
Menurut Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tarakan, Minhajuddin Napsah, semua pintu masuk melalui pelabuhan atau bandara sangat berpotensi jadi jalur penyelundupan barang berbahaya. Sepanjang tahun ini, pihaknya berhasil mengungkap 9 perkara narkotika. Terdiri dari 75 kilogram (kg) narkotika jenis sabu-sabu, 5 gram ganja jenis NPS Synthetic Cannabinoid dan 485 gram ganja jenis Delta-9 Tetrahydrocannabinol.
“Jika ditotal, seharga Rp 113.438.318.000. Ini upaya kami sejak Januari. Kami tetap berupaya menjaga Kaltara agar tidak menjadi pintu masuk narkotika,” tegasnya, Sabtu (13/11).
Mesti begitu, pihaknya mengakui ada keterbatasan personel. Sebanyak 70 pegawai di Bea Cukai Tarakan akan diberdayakan semua. Khususnya pada Unit Pengawasan dan Penindakan. “Kami tetap berkolaborasi dan tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan dan mendukung. Seperti sebelumnya kita bekerja sama dengan BNNP. Dukungan masyarakat juga sangat diharapkan. Supaya masa depan generasi muda bisa lebih baik lagi," harapnya.
Sementara itu, Kepala Bandara Juwata Tarakan, Agus Priyanto menegaskan, selama ia menjabat sejak Februari 2020 lalu, sudah 4 kali menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu. Modus yang ditemukan beragam. Seperti menyelundupkan sabu-sabu yang sudah dicairkan, dan sabu-sabu yang disimpan dalam kotak pengeras suara.
“Ada juga oknum polisi yang kita amankan karena membawa sabu-sabu di dalam tasnya. Bahkan saya baru seminggu menjabat, sudah ada permasalahan ini," bebernya.
Ia mengakui, beberapa unit termasuk Aviation Security (Avsec) sudah teruji dalam mencegah penyelundupan narkotika. Selain itu, pihaknya akan meningkatkan kelengkapan alat petugas Avsec. “Itu yang akan kami tingkatkan lagi. Tapi kalau terkait personel Avsec sudah mempunyai kompetensinya masing-masing. Saya yakin personel kami punya kredibilitas untuk mengoperasikan pemeriksaan terhadap barang-barang terlarang," jelasnya.
Dalam pemeriksaan Security Check Point (SCP) serta melalui mesin x-ray ada 60 personel Avsec yang terbagi menjadi 3 shift. Ada 3 mesin x-ray yang harus diawasi di terminal penumpang dan kargo. “Satu paket pemeriksaan SCP itu ada 7 sampai 8 personel. Ada yang di depan pintu, melihat monitor x-ray dan petugas metal detektor," ungkapnya.
Menurutnya, barang penumpang atau kargo harus dilakukan pengecekan melalui mesin x-ray. Hal ini demi menjaga keamanan di dalam pesawat. "Kalau ada barang terlarang pasti akan membahayakan dan faktor keamanan penerbangan tidak akan terjamin," pungkasnya. (sas/har)
Editor : uki-Berau Post