PROKAL.CO- Pasca melewati fase curah hujan tinggi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kini mengalihkan fokus sepenuhnya pada ancaman kemarau panjang yang mulai membayangi. Gubernur Kalsel, H. Muhidin, menginstruksikan seluruh lapisan masyarakat dan jajaran pemerintah daerah untuk memperketat kewaspadaan terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta mulai mengelola cadangan air secara bijak.
Gubernur menekankan bahwa perilaku sederhana di tingkat masyarakat dapat menjadi faktor penentu pencegahan bencana. Ia secara khusus melarang aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar, serta mengingatkan warga agar tidak membuang puntung rokok maupun sampah sembarangan di area lahan kering. Menurutnya, langkah antisipatif ini harus didukung oleh kesiapsiagaan perangkat daerah, mulai dari bupati hingga kepala desa, untuk merespons kemunculan titik api secara cepat sebelum meluas menjadi kebakaran besar.
Baca Juga: Prahara Malam Pertama di Malang: Identitas Asli Suami Terbongkar, Ternyata Sesama Jenis
Dalam pemetaan kerawanan, wilayah sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru menjadi prioritas utama penanganan guna menjamin kelancaran arus penerbangan dari gangguan kabut asap. Selain itu, kawasan Liang Anggang turut mendapatkan perhatian khusus. Karakteristik lahan di daerah tersebut, yang memiliki lapisan batu putih di bawah permukaan, membuat proses penyerapan air menjadi lambat sehingga pengelolaan kanal dan irigasi harus dioptimalkan agar kondisi tanah tetap lembap.
Sebagai langkah strategis di tingkat provinsi, Pemprov Kalsel tengah menyiapkan opsi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) jika kondisi kekeringan memasuki status darurat. Langkah ini sebelumnya dinilai cukup efektif dalam mengendalikan cuaca selama fase bencana banjir. Namun, Gubernur mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla sangat bergantung pada sinergi antarpihak dalam menjaga ketersediaan air.
Menutup imbauannya, H. Muhidin berpesan agar masyarakat mulai membiasakan pola hidup hemat air untuk kebutuhan sehari-hari. Penggunaan air secara terukur sejak dini dipandang sangat krusial agar stok air bersih tetap mencukupi sepanjang musim kemarau. Pemerintah berharap kolaborasi antara kebijakan teknis seperti optimalisasi kanal dan kesadaran masyarakat dapat meminimalkan dampak ekologis maupun ekonomi di Kalimantan Selatan tahun ini.(*)
Editor : Indra Zakaria