Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bebas dari Trauma Konflik Manusia, 5 Orangutan Ini Akhirnya Menghirup Udara Segar Taman Nasional Setelah 20 Tahun Dirawat

Redaksi Prokal • Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:30 WIB
Seekor orangutan melangkah menuju habitat alaminya saat proses pelepasliaran di hutan Kalimantan. Kelima orangutan tersebut sebelumnya menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng setelah diselamatkan dari berbagai ancaman, termasuk kebakaran hutan dan kehilangan habitat. (ANTARA)
Seekor orangutan melangkah menuju habitat alaminya saat proses pelepasliaran di hutan Kalimantan. Kelima orangutan tersebut sebelumnya menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng setelah diselamatkan dari berbagai ancaman, termasuk kebakaran hutan dan kehilangan habitat. (ANTARA)

PALANGKA RAYA — Kisah haru menyelimuti belantara Kalimantan Tengah setelah lima individu orangutan yang telah menjalani masa rehabilitasi panjang hingga puluhan tahun akhirnya resmi menghirup udara bebas. Yayasan BOS bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah beserta sejumlah mitra sukses melepasliarkan kelima satwa langka tersebut ke kawasan purba Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).

Bagi kelima orangutan bernama Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru, momen pelepasliaran ini bukan sekadar agenda konservasi biasa, melainkan sebuah babak baru kehidupan setelah mereka berhasil lolos dari trauma masa lalu akibat kehilangan habitat alami, konflik berdarah dengan manusia, hingga kepungan bencana kebakaran hutan.

Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, membeberkan betapa emosional dan panjangnya proses yang harus dilalui oleh setiap individu orangutan sebelum mereka dianggap benar-benar layak untuk dilepas ke alam liar. “Setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan yang panjang. Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah melalui bertahun-tahun rehabilitasi untuk belajar kembali menjadi orangutan liar,” ujar Jamartin secara emosional.

Kelima orangutan yang terdiri dari tiga betina dan dua jantan tersebut sebelumnya dievakuasi dan dirawat intensif di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. Di antara mereka, kisah Himba menjadi yang paling menyayat hati. Orangutan jantan yang kini menginjak usia 15 tahun itu pertama kali diselamatkan saat masih bayi dalam kondisi mengenaskan dengan luka bakar serius di sekujur tubuhnya akibat bencana kebakaran hutan.

Butuh waktu hingga 14 tahun lamanya bagi tim medis dan pendamping untuk menyembuhkan trauma fisik dan psikologis Himba, hingga akhirnya ia mahir memanjat dan mencari makan sendiri. Selain Himba, ada pula Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun yang menghabiskan hampir 22 tahun masa hidupnya di pusat rehabilitasi sejak dievakuasi bersama induknya saat masih bayi berumur satu bulan.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, menegaskan bahwa pelepasan satwa ikonik ini merupakan langkah krusial dalam menyelamatkan populasi orangutan Kalimantan yang saat ini statusnya kian kritis dan diperkirakan hanya tersisa sekitar 50 ribuan ekor saja di seluruh Pulau Kalimantan.

“Kami mengapresiasi kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya, sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” tutur Andi Muhammad Kadhafi terkait pelepasliaran ke-47 yang digagasnya bersama Yayasan BOS.

Sementara itu, Kepala TNBBBR Mochamad Satori mengingatkan kembali kepada publik bahwa keberadaan orangutan di hutan liar memegang peranan yang sangat vital bagi keberlanjutan paru-paru dunia. Kehadiran mereka secara alami berfungsi sebagai penyebar biji tumbuhan yang membantu proses regenerasi dan kesehatan hutan tropis secara berkala. “Kehadiran mereka di alam memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan tropis, sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak dan dukungan masyarakat,” pungkas Mochamad Satori. (*)

Editor : Indra Zakaria
#orangutan