Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Hujan Nyaris Nol, Kotim Bersiap Hadapi Kemarau Ekstrem 120 Hari dan Ancaman Karhutla

Redaksi Prokal • Senin, 22 Juni 2026 | 11:46 WIB
Tim BPBD Kotim menangani kebakaran lahan di Jalan Pramuka, Selasa (6/5).IST/RADAR SAMPIT
Tim BPBD Kotim menangani kebakaran lahan di Jalan Pramuka, Selasa (6/5).IST/RADAR SAMPIT

SAMPIT — Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai membunyikan alarm waspada penuh dalam menghadapi musim kemarau tahun ini yang diperkirakan berlangsung jauh lebih ekstrem. Berdasarkan data prakiraan cuaca terbaru, curah hujan selama periode Juli hingga September 2026 diprediksi merosot tajam ke level sangat rendah, yakni hanya berkisar antara 0 hingga 20 milimeter saja per bulan.

Kondisi kering kerontang ini diperparah oleh estimasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa kemarau kali ini bisa membentang hingga 120 hari lamanya. Durasi panjang tersebut dipastikan bakal menguras kelembapan tanah dan membuat kawasan rawan, khususnya lahan gambut, menjadi sangat rapuh dan mudah tersulut api. Tanda-tanda bahaya bahkan sudah mulai terlihat dengan munculnya sejumlah titik panas (hotspot) serta beberapa insiden kebakaran lahan berskala kecil dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, menegaskan bahwa jajarannya kini telah menaikkan status kesiapsiagaan ke tingkat tertinggi demi mengantisipasi ledakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia meminta seluruh lapisan masyarakat untuk memiliki kesadaran penuh bahwa kondisi cuaca saat ini sangat sensitif terhadap percikan api sekecil apa pun.

“Cuaca yang semakin kering membuat risiko kebakaran meningkat. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas,” ujar Multazam saat memberikan keterangan di Sampit.

Multazam juga mengingatkan bahwa karhutla sering kali tidak hanya dipicu oleh aktivitas pembersihan lahan berskala besar, melainkan juga oleh kelalaian-kelalaian kecil yang kerap diabaikan di kehidupan sehari-hari.

“Kebakaran lahan tidak selalu disebabkan oleh pembukaan lahan yang disengaja. Hal-hal sepele, seperti membuang puntung rokok sembarangan di area kering atau di atas lahan gambut yang kering, juga memiliki potensi besar memicu munculnya titik api yang sulit dikendalikan,” jelasnya secara gamblang.

Guna membendung potensi bencana musiman ini, BPBD Kotim bergerak cepat memperkuat langkah-langkah mitigasi di lapangan. Patroli darat secara rutin mulai diintensifkan, pemantauan sebaran hotspot diperketat, dan koordinasi dengan BMKG terus dijalin secara real-time untuk memantau pergeseran cuaca.

Pemerintah daerah juga menekankan bahwa peran aktif warga adalah kunci utama pertahanan wilayah. Masyarakat yang bermukim di zona merah karhutla diimbau mulai mengamankan sumber air cadangan, membuat sekat bakar di sekitar pekarangan atau kebun mereka, serta menyiagakan alat pemadam sederhana sebagai langkah penanganan dini. Selain itu, warga diminta bersiap menghadapi potensi kabut asap dengan menyediakan masker dan membatasi aktivitas luar ruangan demi menjaga kesehatan pernapasan selama periode kering ekstrem ini berlangsung. (*)

Editor : Indra Zakaria
#kotim