PALANGKA RAYA — Dampak mengerikan dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini benar-benar mencekik warga Kota Palangka Raya. Kualitas udara yang kian memburuk akibat kepungan asap pekat memicu lonjakan fantastis kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Data terbaru Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mencatat angka yang sangat mengkhawatirkan: sebanyak 12.394 warga Palangka Raya telah terserang ISPA. Capaian kelam ini menempatkan Ibu Kota Provinsi Kalteng tersebut di peringkat teratas wilayah dengan kasus ISPA tertinggi, disusul Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 12.023 kasus dan Kabupaten Kapuas sebanyak 9.602 kasus.
Menanggapi situasi kritis tersebut, Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya langsung mengambil langkah cepat dengan membagikan ribuan masker gratis secara masif di seluruh fasilitas kesehatan. "Masker sudah kami salurkan ke seluruh puskesmas agar bisa segera dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan seperti anak usia sekolah, ibu hamil, dan lansia," tegas Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan.
Lantaran partikel debu dan asap karhutla kian berbahaya bagi paru-paru, Riduan mengimbau keras agar warga menahan diri dari aktivitas di luar rumah jika tidak ada urusan mendesak.
"Jika tidak ada kepentingan mendesak, sebaiknya aktivitas di luar rumah dikurangi. Namun apabila harus keluar, gunakan masker dengan benar sebagai perlindungan utama dari paparan asap," lanjutnya. Selain menekankan pentingnya proteksi fisik, warga juga diminta membentengi daya tahan tubuh lewat konsumsi makanan bergizi, kecukupan air putih, serta asupan vitamin. Pemko Palangka Raya pun tak ingin kecolongan dengan menyiagakan penuh empat puskesmas induk dan 43 puskesmas pembantu (Pustu) di seluruh pelosok kota.
"Saya minta masyarakat tidak mengabaikan gejala awal seperti batuk, pilek, atau sesak napas. Segera periksakan diri ke puskesmas terdekat agar mendapat penanganan medis sebelum kondisi memburuk," pungkas Riduan.
Disiplin menerapkan protokol kesehatan kini menjadi benteng terakhir masyarakat Palangka Raya guna menekan laju lonjakan penderita ISPA di tengah ancaman kemarau dan karhutla yang masih terus membara. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co