Kepungan Asap Kian Mengancam, Pemko Palangka Raya Minta Tambahan Bantuan Armada Udara ke Pusat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 12:30 WIB
Petugas dari BPBD dan relawan memadamkan api di Kameloh Baru.(BPBD)
Petugas dari BPBD dan relawan memadamkan api di Kameloh Baru.(BPBD)

PALANGKA RAYA — Pemerintah Kota Palangka Raya terus bergerak cepat melancarkan penanganan darurat terhadap maraknya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengintai wilayahnya. Mengingat kobaran api terus membesar di sejumlah titik krusial—mulai dari Kelurahan Kameloh Baru hingga area perbatasan Desa Tumbang Nusa—pemerintah setempat memutuskan untuk mengajukan tambahan armada udara ke pemerintah pusat.

Langkah strategis ini dibahas dalam Rapat Koordinasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang.

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naprin, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengusulkan bantuan armada udara tambahan demi memperkuat jalur pemadaman lewat udara (water bombing) maupun pemantauan dari atas.

"Dari hasil rapat koordinasi, telah diusulkan penambahan armada berupa tiga pesawat water bombing, dua helikopter patroli, dan satu helikopter untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)," ungkap Fairid Naprin saat ditemui Kalteng Pos.

Fairid menjelaskan, intervensi udara sangat mendesak karena helikopter OMC yang beroperasi beberapa hari terakhir telah terbukti ampuh memicu hujan buatan di wilayah rawan. Namun, pengoperasian armada saat ini harus terbagi dengan wilayah tetangga, seperti Kabupaten Pulang Pisau, lantaran titik api di Kameloh Baru, Desa Taruna, dan Tumbang Nusa berada dalam hamparan kawasan yang sama meski terpisah batas administrasi.

Sinergi lintas sektor antara Pemko, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, hingga para relawan terus dipacu di lapangan untuk membendung gumpalan asap yang kian pekat.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun pemerintah daerah, total luas lahan yang hangus dilalap si jago merah di Palangka Raya telah menembus angka 31 hektare dari 126 titik kebakaran yang terdeteksi sejak 1 Juli lalu. Dari jumlah tersebut, Kelurahan Kameloh Baru menjadi wilayah yang menderita kerusakan paling parah.

"Untuk total di Palangka Raya sekitar 31 hektare, di mana khusus kawasan Kameloh Baru diperkirakan mencapai 20 hektare," pungkas Fairid.

Upaya menambah armada udara ini diharapkan dapat memutus rantai penyebaran api sebelum musim kemarau makin memperparah krisis ekologis dan memicu kabut asap yang lebih parah di Kalimantan Tengah. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalteng