Darurat Karhutla Kalteng, Kepala BNPB dan Menhut Putuskan Berkantor Sementara di Palangka Raya

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 16:01 WIB
Menhut dan Kepala BNPB akan berkantor di Palangka Raya.(Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)
Menhut dan Kepala BNPB akan berkantor di Palangka Raya.(Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)

PALANGKA RAYA — Tingginya intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kalimantan Tengah memicu respons cepat dari pemerintah pusat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memutuskan untuk berkantor sementara di Palangka Raya.

Langkah tak biasa ini diambil sebagai bentuk komitmen nyata bahwa pemerintah pusat hadir dan mendampingi pemerintah daerah dalam mengatasi krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

"Melihat situasi seperti ini, sebagai bentuk kepedulian bahwa pemerintah daerah tidak berjalan sendirian, kami berdua yang tadinya hanya berkunjung memutuskan untuk beberapa hari berkantor di Kalimantan Tengah," tegas Suharyanto saat berada di Palangka Raya, Senin (21/9/2026).

Kehadiran jajaran pimpinan pusat ini bertujuan untuk memotong alur birokrasi, mempercepat koordinasi, serta memastikan seluruh strategi penanganan darat maupun udara berjalan optimal hingga situasi membaik. Pihaknya menyatakan akan bertahan di Kalteng sampai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) membuah hasil dan memicu turunnya hujan.

Suharyanto mengakui bahwa pekatnya kabut asap saat ini sangat mengganggu efektivitas penanganan. Bahkan, armada pesawat OMC sempat gagal lepas landas dari Bandara Tjilik Riwut akibat jarak pandang yang terlampau rendah. Situasi tersebut meretetas skema baru dengan mengalihkan pangkalan penerbangan ke Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru dan Bandara Iskandar Pangkalan Bun.

Di sektor darat, tim Satgas Karhutla terus berjibaku memadamkan kobaran api. Dari total 180 hektare lahan yang terbakar dalam kurun waktu singkat, petugas berhasil memadamkan sekitar 150 hektare, menyisakan 30 hektare area kritis.

Kendati demikian, karakteristik lahan gambut di Kalteng menyajikan tantangan tersendiri. Karakter gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan membuat lahan yang tampak padam berpotensi menyala kembali, ditambah kemunculan titik api baru setiap harinya.

Oleh karena itu, keberadaan BNPB dan Kementerian Kehutanan di lapangan diharapkan mampu mendongkrak kapasitas pemadaman harian agar melampaui laju munculnya titik-titik kebakaran baru di wilayah Kalteng.(*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalteng palangka raya