PROKAL.CO- Angka pemantauan titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data terbaru BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per Senin pagi (28/9/2026), terdeteksi sebanyak 580 titik panas dalam 24 jam terakhir.
Jumlah ini menyusut cukup signifikan dibanding beberapa hari sebelumnya yang sempat melesat hingga menembus angka di atas 1.000 titik.
Kendati Grafik sebarannya melandai, BPBD Kotim mewanti-wanti seluruh personel Satuan Tugas (Satgas) Karhutla untuk tidak mengendurkan kewaspadaan di lapangan. Sebab, penurunan hotspot bukan menjadi jaminan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah sepenuhnya jinak.
Dari total 580 titik yang terpantau, sebanyak 552 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium confidence), 24 titik bertingkat kepercayaan tinggi (high confidence), dan 4 titik sisanya berada di kategori rendah (low confidence).
Sebaran titik panas saat ini masih mengepung wilayah pesisir serta kawasan bantaran Sungai Mentaya. Kecamatan Seranau menjadi wilayah penyumbang hotspot tertinggi dengan total 184 titik, disusul Mentaya Hilir Utara sebanyak 148 titik, serta Pulau Hanaut dengan 88 titik.
Adapun di tingkat desa, konsentrasi titik panas paling tebal terdeteksi di Desa Ganepo (Kecamatan Seranau) dan Desa Bagendang Tengah (Kecamatan Mentaya Hilir Utara) yang masing-masing menyumbang 121 titik panas.
Penurunan hotspot ini menjadi sinyal positif dalam penanganan bencana karhutla. Namun, struktur lahan gambut di Kotim menyimpan ancaman laten yang berbahaya. Karakteristik api pada lahan gambut kerap bertahan dan menjalar kian dalam di bawah permukaan tanah, serta berpotensi sewaktu-waktu membakar kembali permukaan jika proses pemadaman dan pendinginan (cooling down) tidak disiram secara tuntas.
Guna mengantisipasi hal tersebut, Satgas Karhutla gabungan yang melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) terus dikerahkan untuk memperketat patroli darat dan pembasahan intensif di titik-titik rawan mau pun bekas area terbakar yang belum sepenuhnya dingin. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co