SAMARINDA — Nakhoda baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur, Anderiy Syachrum, langsung memasang target tinggi usai terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) Kaltim 2026 di Tower Kadrie Oening Sempaja, Rabu (3/6/2026). Pria yang akrab disapa Haji Andre ini bertekad membawa kontingen Benua Etam menembus posisi tiga besar pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.
Haji Andre menyadari bahwa kualitas atlet dan pelatih Kaltim sebenarnya sangat mampu bersaing di level nasional. Namun, berkaca dari pengalaman sebelumnya, mimpi menembus papan atas sering kali kandas dan hanya menjadi slogan musiman akibat terbentur masalah klasik, yakni keterbatasan anggaran.
Guna memutus rantai masalah tersebut, Ketua KONI Kaltim periode 2026–2030 ini menegaskan bahwa fokus utamanya di luar pembentukan pengurus adalah memperkuat sektor pembiayaan olahraga prestasi. Mengingat kondisi fiskal daerah yang saat ini sedang dibayangi kebijakan efisiensi anggaran, Kaltim tidak bisa lagi hanya berpangku tangan mengharapkan kucuran dana APBD.
Langkah taktis yang akan segera diambil adalah membuka keran kemitraan seluas-luasnya dengan sektor swasta, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), hingga para pencinta olahraga di Kalimantan Timur. KONI Kaltim akan gencar bergerilya mencari "bapak asuh" atau sponsor strategis bagi setiap cabang olahraga demi menjamin kesejahteraan dan kesinambungan latihan para atlet. Haji Andre merasa kasihan jika bakat-bakat hebat terbuang sia-sia dan tertinggal dari daerah lain hanya karena urusan biaya yang seret.
Keberanian Haji Andre mematok target tiga besar atau setidaknya mengunci posisi lima besar ini terbilang sangat ambisius, mengingat Bumi Etam harus puas bertengger di peringkat ke-8 pada PON XXI Aceh-Sumut 2024 lalu. Pengajuan total anggaran sendiri baru akan digodok secara matang setelah tim formatur menyelesaikan penyusunan struktur kepengurusan baru dalam kurun waktu maksimal 30 hari ke depan.
Untuk mengawal target besar tersebut, kepengurusan KONI Kaltim yang baru juga telah menyiapkan lima misi strategis yang saling terintegrasi. Fondasi utama dimulai dari restrukturisasi organisasi yang menerapkan prinsip low cost, high impact, memastikan setiap rupiah yang keluar dialokasikan langsung untuk kebutuhan atlet dan pelatih di lapangan.
Selain itu, KONI Kaltim akan menyuntikkan teknologi modern lewat sport science guna memetakan potensi juara secara akurat tanpa pemborosan sumber daya. Sisi non-teknis seperti penguatan mentalitas juara dan integritas atlet juga menjadi perhatian serius. Terakhir, demi memutus ketergantungan pada konsultan asing, kepengurusan baru ini berkomitmen menaikkan kelas para pelatih lokal melalui sertifikasi berstandar internasional. (*)
Editor : Indra Zakaria