PROKAL.CO— Sebuah peringatan serius datang dari jantung rimba Kalimantan. Kasus malaria knowlesi kini mulai dilaporkan menyerang warga di sejumlah wilayah. Penyakit zoonosis berbahaya yang melompat dari monyet ke manusia lewat perantara gigitan nyamuk ini dinilai berpotensi mengalami lonjakan, terutama di kawasan permukiman yang berbatasan langsung dengan hutan serta area pembukaan lahan baru.
Dokter dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, mengungkapkan bahwa kemunculan kasus ini di Indonesia sejauh ini banyak terendus lewat penelitian mendalam serta laporan kasus perorangan. Menurutnya, penyebaran penyakit ini tidak boleh dipandang sebelah mata karena sudah mulai memetakan wilayahnya.
“Wilayah-wilayah yang sudah melaporkan antara lain dari Kalimantan, Sumatera, dan juga beberapa fokus di daerah Sulawesi,” ungkap dr. Inke saat memaparkan situasi ketenagakerjaan dan kesehatan tersebut kepada awak media.Malaria knowlesi sejatinya dipicu oleh parasit Plasmodium knowlesi yang hidup di dalam tubuh monyet ekor panjang dan primata liar lainnya. Ketika nyamuk Anopheles mengisap darah monyet tersebut, nyamuk itu menjadi kurir yang membawa parasit mematikan ke tubuh manusia yang tinggal di sekitarnya.
Di Kalimantan sendiri, perubahan bentang alam yang masif akibat deforestasi, ekspansi perkebunan, hingga aktivitas pertambangan secara tidak langsung telah merusak sekat alami antara manusia dan satwa liar. Interaksi yang semakin intens ini membuat masyarakat yang beraktivitas di dekat hutan menjadi kelompok paling rentan terkena gigitan nyamuk penular.
Sayangnya, laporan kasus yang ada saat ini dianggap belum mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan. Dr. Inke mengakui bahwa sistem deteksi dini di Indonesia masih memiliki keterbatasan yang besar, bahkan negara ini belum memiliki sistem surveilans nasional khusus yang terintegrasi untuk memantau pergerakan malaria knowlesi.
“Biasanya muncul dari laporan kasus, kasus-kasus tertentu yang mungkin sampai ke pemeriksaan PCR yang akhirnya teridentifikasi dengan knowlesi,” jelas dr. Inke secara gamblang.
Ketiadaan sistem pemantauan khusus ini memicu kekhawatiran bahwa angka yang tercatat secara resmi hanyalah puncak dari gunung es, sementara potensi kasus di lapangan jauh lebih besar karena gejalanya yang mirip dengan malaria biasa—seperti demam, menggigil, dan sakit kepala—sehingga sering kali salah terdiagnosis.
Fenomena merayapnya malaria knowlesi ke permukiman manusia sebenarnya bukan sekadar masalah lokal Kalimantan atau Indonesia saja, melainkan sudah menjadi ancaman kolektif di kawasan Asia Tenggara. Alih fungsi lahan berskala besar menjadi faktor pendorong utama mengapa penyakit yang dahulu mendekam di dalam hutan kini mulai mengetuk pintu rumah warga.
“Hal ini berkaitan dengan keberadaan habitat monyet, nyamuk Anopheles tertentu, serta perubahan lingkungan akibat deforestasi dan alih fungsi lahan,” tegas dr. Inke mengakhiri penjelasannya.
Kemunculan malaria knowlesi menjadi tamparan keras bahwa kerusakan lingkungan selalu linier dengan ancaman kesehatan masyarakat. Guna mencegah komplikasi fatal yang bisa berujung pada kematian, para pakar kesehatan mendesak pemerintah untuk segera memperkuat metode deteksi molekuler atau PCR di daerah rawan, sekaligus mengedukasi warga agar lebih protektif saat beraktivitas di dekat hutan, mulai dari penggunaan kelambu hingga losion antinyamuk. (*)
Editor : Indra Zakaria