Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jangan Abaikan! 4 Sinyal Peringatan Kencing Manis Ini Muncul 5 Tahun Sebelum Ginjal Bocor

Redaksi Prokal • Kamis, 25 Juni 2026 | 07:45 WIB

 

Ilustrasi diabetes
Ilustrasi diabetes

PROKAL.CO- Diabetes atau kencing manis sering kali dijuluki sebagai silent killer karena berkembang diam-diam selama 5 hingga 10 tahun tanpa disadari, sebelum akhirnya berujung pada komplikasi fatal seperti gagal ginjal kronis. Banyak orang mengira kerusakan ginjal terjadi secara tiba-tiba, padahal tubuh sebenarnya sudah mengirimkan sinyal peringatan terakhir jauh sebelum kerusakan parah itu terjadi.

Tanda pertama yang jarang disadari adalah munculnya lingkaran hitam menyerupai cincin di area leher. Kondisi yang dikenal secara medis sebagai Acanthosis Nigricans ini sering kali salah dikira sebagai daki akibat jarang mandi. Faktanya, kulit yang menghitam, menebal, dan bertekstur seperti beludru ini merupakan tanda bahwa tubuh sudah mengalami resistensi insulin. Ketika gula darah melonjak tinggi selama bertahun-tahun, pankreas dipaksa bekerja sepuluh kali lipat untuk memproduksi insulin. Kadar insulin yang berlebih inilah yang memicu perubahan tekstur dan warna kulit leher. Pada tahap ini fungsi ginjal mungkin masih normal, namun jika dibiarkan tanpa penanganan, fungsi organ penyaring tersebut dapat merosot drastis hingga 30 persen dalam waktu singkat.

Sinyal bahaya berikutnya adalah intensitas buang air kecil yang meningkat tajam di malam hari, bahkan mencapai 3 hingga 4 kali. Ketika kadar gula darah sudah menembus angka di atas 10.0 mmol/L, ginjal akan panik dan bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihan gula tersebut melalui urine. Proses ini secara otomatis menarik cairan dari dalam tubuh, yang kemudian memicu gejala ketiga, yaitu rasa haus ekstrem yang tidak kunjung hilang meskipun sudah minum air hingga 3 liter. Kondisi ini menyerupai lingkaran setan; semakin banyak cairan manis atau urine yang keluar, semakin dehidrasi tubuh Anda. Berdasarkan Pedoman PERKENI, kebiasaan kencing lebih dari dua kali di malam hari yang disertai angka gula darah puasa di atas 7.0 mmol/L secara signifikan meningkatkan risiko seseorang harus menjalani prosedur cuci darah.

Tanda keempat sekaligus yang paling krusial karena menandakan stadium lanjut adalah munculnya rasa kebas dan kesemutan yang konstan pada kaki. Tekanan gula darah yang tinggi selama satu dekade perlahan menyumbat pembuluh darah kecil dan merusak jaringan saraf di area kaki, sebuah kondisi komplikasi yang disebut Neuropati Diabetik. Tahap ini sangat berbahaya karena mati rasa membuat penderita tidak dapat merasakan luka fisik, seperti saat menginjak paku atau kaca. Luka kecil yang tidak disadari tersebut rentan membusuk menjadi borok bernanah, dan menjadi penyebab utama tingginya kasus amputasi kaki di Indonesia dengan beban biaya operasi yang sangat mahal.

Guna mencegah komplikasi fatal tersebut, para ahli medis sangat menyarankan masyarakat untuk melakukan deteksi dini secara mandiri menggunakan alat cek gula darah (glukometer) di rumah, tanpa harus menunda karena takut mengantre di klinik. Skrining awal dapat dilakukan secara mudah setelah berpuasa selama 8 jam. Jika hasil glukometer menunjukkan angka di bawah 5.6, maka kadar gula darah Anda masih berada di zona hijau atau normal. Namun, jika angka menunjukkan 5.6 hingga 6.9, Anda berada di zona kuning atau pradiabetes yang harus segera diperbaiki. Sementara itu, angka di atas 7.0 berarti Anda sudah berada di zona merah atau bahaya.

"Self-monitoring itu justru dianjurkan buat tahu risiko sejak awal. Nggak langsung disuruh ke klinik. Yang penting tahu dulu nomor gula darah berapa," ungkap praktisi medis, menegaskan pentingnya pemeriksaan mandiri. Jika hasil skrining awal menunjukkan angka tinggi, masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan lanjutan ke dokter guna mendapatkan diagnosis resmi, dan sangat dilarang untuk mengonsumsi suplemen atau obat secara sembarangan sebelum ada petunjuk medis. (*)

 

Editor : Indra Zakaria
#diabetes