TANJUNG – Misteri di balik kasus pemukulan yang menimpa IS (42), seorang guru Akidah Akhlak di MAN 1 Tabalong, akhirnya beralih ke babak baru. Isi rekaman suara yang memicu aksi kekerasan tersebut kini terkuak ke publik. MB, pria yang menjadi terduga pelaku pemukulan, secara blak-blakan membuka motif di balik aksi nekatnya yang dipicu oleh penghinaan terhadap ulama dan habaib.
Dalam rekaman yang sengaja diputar, oknum guru tersebut diduga kuat tidak hanya melontarkan kata-kata kasar kepada muridnya saat memberikan nasihat, melainkan juga menyerang kehormatan para habaib serta mendiang seorang ulama kharismatik asal Tabalong yang dihormati masyarakat.
Mendengar ucapan yang dinilai sangat mencederai perasaan umat tersebut, MB mengaku langsung gelap mata dan tersulut emosi tinggi hingga secara spontan melayangkan tamparan ke arah wajah IS, meski kemudian tangkisan tangan korban sempat menghalaunya.
"Saya tampar dalam keadaan tidak sadar karena sudah sangat emosi mendengar isinya," ujar MB saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (12/6/2026).
Menurut penuturan MB, oknum guru berinisial IS ini sebenarnya bukan kali pertama tersandung kasus serupa. Sebelumnya, IS dikabarkan pernah disidang di Mapolres Tabalong atas masalah yang sama dan telah berjanji tertulis untuk tidak mengulangi perbuatannya. Namun nyatanya, tabiat tersebut kembali kambuh saat IS memberikan teguran kepada salah satu siswa berinisial MR (17) hanya gara-gara urusan belum menyetorkan hafalan tugas sekolah.
Perekaman itu sendiri sengaja dilakukan oleh MR—yang juga merupakan rekan dari MB—karena merasa resah dengan materi pengajaran IS yang dinilai melenceng dan kerap menyisipkan ujaran kebencian. Untuk menghindari fitnah dan asas praduga, MB kemudian meminta bukti rekaman utuh dari MR sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.
Sebelum insiden pemukulan terjadi di kantor polisi, MB mengklaim dirinya sudah mencoba menempuh jalur kekeluargaan. Ia sempat mendatangi sekolah MAN 1 Tabalong untuk bertabayun namun gagal menemui IS. Tak menyerah, MB bahkan mendatangi kediaman Ketua RT setempat dengan harapan bisa dimediasi secara baik-baik, tetapi IS tetap sulit ditemui.
Hingga akhirnya, kedua belah pihak dipertemukan di Mapolsek Murung Pudak untuk proses mediasi resmi. Sayangnya, di hadapan petugas, IS dinilai berbelit-belit dan terus mencari alasan pembelaan terkait isi rekaman tersebut. Hal itulah yang menjadi pemantik emosi instan MB hingga berujung pada aksi pemukulan fisik di dalam area polsek.
MB secara jantan mengakui kekhilafannya dan menyatakan siap mempertanggungjawabkan tindakan fisiknya di mata hukum. Namun di sisi lain, ia juga resmi melaporkan balik oknum guru tersebut ke Polres Tabalong atas dugaan pelanggaran berat terkait pencemaran nama baik dan penyebaran ujaran kebencian (hate speech).
"Saya mengakui saya salah karena memukul, saya siap hadapi. Kalau mau diproses silakan, kalau mau mediasi juga silakan. Tapi saya juga mengadu terkait pencemaran nama baik. Orang ini (IS) sudah terlalu sering mengucapkan ujaran kebencian, dan saya mengantongi banyak bukti valid ucapan dia," tegas MB.
Meski proses hukum kini saling lapor, MB menyatakan masih membuka pintu damai dengan syarat yang ketat, yakni IS wajib mengakui kesalahan fatalnya di depan publik dan berjanji tidak akan pernah lagi menghina simbol agama maupun ulama setempat.
Di akhir keterangannya, MB mendesak Kepala Sekolah MAN 1 Tabalong serta Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tabalong untuk bertindak tegas dan memberikan sanksi moral maupun administratif yang berat kepada oknum guru Akidah Akhlak tersebut agar tidak merusak citra dunia pendidikan Islam. Ia juga menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada institusi kepolisian atas kegaduhan refleks yang terjadi di markas mereka. (*)
Editor : Indra Zakaria