PROKAL.CO, TENGGARONG – Jalan rusak di Desa Benua Puhun, Kecamatan Muara Kaman, bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur. Bagi warga, akses yang rusak selama belasan tahun itu kini menyangkut keselamatan hidup.
Kepala Desa Benua Puhun, Ardinansyah, mengungkapkan warga bahkan pernah mengalami kejadian ibu hamil melahirkan di perjalanan akibat sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan.
“Kalau ada ibu yang mau melahirkan, orang yang sakit, semuanya mereka melewati jalan itu,” ujarnya, Senin (12/5/2026) kemarin.
Jalan penghubung Desa Benua Puhun menuju Desa Rantau Hempang sepanjang 14 kilometer hingga kini masih dalam kondisi rusak dan sulit dilalui, terutama saat hujan turun. Padahal, jalur tersebut menjadi satu-satunya akses utama masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari. Mulai dari distribusi hasil kebun, akses pendidikan anak-anak, hingga pelayanan kesehatan seluruhnya bergantung pada kondisi jalan tersebut.
Ardinansyah mengatakan, pemerintah daerah terakhir kali melakukan pengerasan jalan pada 2012. Setelah itu, tidak ada lagi pembangunan lanjutan berupa semenisasi maupun stabilisasi jalan. “Dari 2012 sampai hari ini belum ada semenisasi,” katanya.
Menurutnya, pemerintah desa bersama masyarakat selama ini tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan secara swadaya agar jalan tetap bisa dilintasi kendaraan. Gotong royong melibatkan RT, LPM, BPD hingga lembaga adat rutin dilakukan untuk menutup lubang dan memperbaiki bagian jalan yang rusak parah.
Namun, ia mengakui kemampuan desa sangat terbatas jika harus menangani jalan sepanjang 14 kilometer tanpa dukungan pemerintah daerah.
Dengan kritik sebagian masyarakat di media sosial yang mempertanyakan langkah pemerintah desa terhadap kondisi jalan tersebut. Menurutnya, pembangunan permanen membutuhkan anggaran besar yang mustahil dipenuhi secara mandiri.
“Jalan sepanjang 14 kilometer itu dibuat dana pribadi tidak mungkin bisa,” tegasnya. Karena itu, Ardinansyah berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara lebih serius memperhatikan kebutuhan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan, khususnya akses jalan penghubung desa.
Ia menilai, bagi masyarakat desa, jalan bukan hanya sarana transportasi. Jalan menjadi penghubung utama menuju layanan kesehatan, pendidikan, hingga penggerak roda ekonomi warga. “Harapannya kalau dulu sudah pengerasan, kalau bisa langsung semenisasi,” tutup Ardinansyah. (moe)
Editor : Indra Zakaria