Empat Hari Hidupkan Tradisi, Festival Sri Muntai: Congkil Movement Jadi Benteng Pelestarian Budaya Kutai

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 17:04 WIB
 Penutupan Festival Sri Muntai 2026 di Desa Muara Muntai Ilir yang dihadiri Bupati dan Sultan Kutai (Istimewa)
 Penutupan Festival Sri Muntai 2026 di Desa Muara Muntai Ilir yang dihadiri Bupati dan Sultan Kutai (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Selama empat hari terakhir, Desa Muara Muntai Ilir tak hanya menjadi pusat hiburan masyarakat. Beragam permainan tradisional, seni tari, musik hingga tradisi lokal kembali hidup, menjadi ruang bagi generasi muda mengenal identitas budaya Kutai di tengah derasnya arus modernisasi.

Festival Budaya Sri Muntai "Congkil Movement" resmi ditutup di Lapangan Sepak Bola Gajah Mada, Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Sabtu (18/7/2026). Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menegaskan festival tersebut akan terus dipertahankan sebagai agenda tahunan untuk menjaga semangat pelestarian budaya di Tanah Kutai.

Selama empat hari pelaksanaan, festival menghadirkan berbagai kegiatan kebudayaan, mulai olahraga tradisional seperti begasing dan belogo, pertunjukan tari tradisi, hingga penampilan musisi lokal seperti Ratna Citra, Petala Borneo, Pelandok Besayap, dan Chapter Reborn yang memadukan hiburan dengan nuansa budaya daerah.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan festival. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar perayaan budaya, tetapi menjadi bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat.

 Penutupan Festival Sri Muntai 2026 di Desa Muara Muntai Ilir yang dihadiri Bupati dan Sultan Kutai (Istimewa)
 Penutupan Festival Sri Muntai 2026 di Desa Muara Muntai Ilir yang dihadiri Bupati dan Sultan Kutai (Istimewa)

 

"Festival Budaya Sri Muntai ini merupakan bentuk tanggung jawab kita untuk mempertahankan dan melestarikan budaya di tanah etam. Karena selalu etam bilang, kalau lain etam, siapa lagi yang akan melestarikan budaya etam ini," ujarnya.

Aulia mengingatkan, modernisasi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri. Berbagai kesenian dan tradisi seperti tingkilan, begasing, belogo, bebetisan, tari tradisional hingga pantun harus terus dikenalkan agar tidak hilang ditelan zaman.

"Kalau tidak kita pertahankan dan rawat, anak-anak etam nanti tidak akan tahu lagi apa itu tingkilan, begasing, belogo, bebetisan, tari-tarian, pantun, dan warisan budaya lainnya," katanya.

Ia menekankan ada dua fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Kutai. Pertama, menumbuhkan rasa bangga sebagai orang Kutai tanpa memandang asal daerah. Kedua, memastikan adat dan sejarah Kutai terus diwariskan kepada generasi muda, baik melalui keluarga maupun lingkungan pendidikan.

Aulia mengajak para guru mengenalkan sejarah kejayaan Kutai kepada peserta didik, sementara para orang tua diminta menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini di lingkungan keluarga.

Karena, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, ia mengajak masyarakat menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh berbagai provokasi.

Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Kukar memastikan Festival Budaya Sri Muntai akan terus digelar setiap tahun dan telah masuk dalam kalender kegiatan daerah melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar.

"Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berkomitmen untuk terus melaksanakan Festival Budaya Sri Muntai setiap tahun di Kecamatan Muara Muntai. Festival ini sudah menjadi kalender tahunan yang pembiayaannya masuk melalui Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara," tegasnya.

Sementara itu, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin, menilai budaya akan tetap hidup selama masyarakat memiliki kemauan untuk terus merawat dan mengembangkannya. Menurutnya, budaya telah diwariskan sejak zaman leluhur dan menjadi identitas yang harus dijaga bersama.

"Budaya tidak akan mundur. Sejak zaman nenek moyang kita, budaya itu sudah ada dan terus diwariskan. Tugas kita sekarang adalah bagaimana menjadikan budaya itu semakin maju ke depannya," ujarnya.

Ia menambahkan, pelestarian budaya juga harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Baik warga yang tinggal di perkotaan maupun pedesaan, menurutnya, memiliki peran yang sama dalam menjaga keberlangsungan budaya Kutai agar tetap menjadi kebanggaan generasi mendatang. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara