PROKAL.CO, TENGGARONG – Dingin dini hari tak menyurutkan semangat ribuan warga yang memadati halaman parkir Pendopo Odah Etam, Senin (20/7/2026). Beralaskan tikar dan duduk lesehan tanpa sekat, mereka larut dalam euforia final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina. Tak ada perbedaan jabatan ataupun latar belakang malam itu. Semua menyatu menjadi suporter, menahan kantuk demi menyaksikan lahirnya juara dunia.
Suasana semakin hidup setiap kali peluang tercipta. Sorak sorai bergantian terdengar dari kubu pendukung Spanyol maupun Argentina. Tepuk tangan, teriakan, hingga helaan napas kecewa mewarnai jalannya pertandingan yang berlangsung ketat di Stadion New York-New Jersey, Amerika Serikat.
Nonton bareng (nobar) yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) itu menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat. Mulai dari anak muda, keluarga, komunitas pecinta sepak bola, hingga orang tua memenuhi area parkir Pendopo Odah Etam sejak sebelum pertandingan dimulai.
Di antara ratusan penonton tampak Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Komandan Kodim 0906/Kukar Letkol Arm Benny Budiman, sejumlah kepala perangkat daerah, tokoh masyarakat, serta warga duduk berdampingan menikmati laga. Tidak ada kursi khusus maupun pembatas. Semua berbaur dalam suasana sederhana, larut dalam tensi pertandingan yang terus meningkat.
Meski pertandingan telah memasuki 90 menit waktu normal, kedua tim belum mampu memecah kebuntuan. Spanyol lebih banyak menguasai permainan, sementara Argentina mengandalkan pertahanan disiplin dan penampilan gemilang penjaga gawang Emiliano Martínez. Skor 0-0 memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan waktu untuk menentukan siapa yang berhak mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
Di layar raksasa, setiap serangan membuat ratusan pasang mata enggan beranjak. Meski jarum jam terus bergerak menuju pagi, tak seorang pun meninggalkan lokasi. Aroma kopi, obrolan singkat antarsuporter, hingga teriakan penyemangat menjadi warna tersendiri yang membuat suasana tetap hangat di tengah udara dini hari.
Ketegangan yang sejak awal menyelimuti halaman Pendopo Odah Etam akhirnya pecah saat pertandingan memasuki menit ke-106. Setelah lebih dari 100 menit kedua tim saling mengunci tanpa gol, Spanyol memecah kebuntuan melalui penyelesaian Fernan Torres yang memanfaatkan umpan matang Lamine Yamal.
Dalam hitungan detik, suasana berubah drastis. Pendukung La Roja yang sejak awal memenuhi sisi-sisi area nobar serentak berdiri, berteriak, dan saling berpelukan merayakan gol yang dinanti sejak kick-off. Di saat bersamaan, langit Tenggarong mulai berubah terang. Semburat cahaya matahari yang muncul dari ufuk timur seolah menjadi penanda berakhirnya penantian panjang para pendukung Spanyol untuk kembali melihat tim kesayangannya berada di ambang gelar juara dunia.
Sorak sorai terus bergema hingga peluit panjang dibunyikan. Wajah-wajah yang semula menahan kantuk berganti menjadi luapan kegembiraan. Sebaliknya, para pendukung Argentina hanya bisa terduduk sambil tetap memberikan tepuk tangan sebagai bentuk penghormatan atas jalannya pertandingan yang berlangsung sengit.
Di antara lautan pendukung Spanyol, tampak Zavi mengenakan jersey merah kebanggaan La Roja. Sejak awal pertandingan ia tak henti memberikan dukungan, dan begitu Spanyol memastikan diri menjadi juara Piala Dunia 2026, ekspresi bahagia tak mampu disembunyikannya.
Menurutnya, gelar juara memang pantas diraih Spanyol karena tampil lebih dominan sepanjang pertandingan, baik dari penguasaan bola maupun kualitas permainan yang diperlihatkan.
"Ya, memang kalau dilihat dari segi permainan, Spanyol tampil lebih unggul. Penguasaan bola mereka lebih baik, begitu juga dengan umpan-umpan yang dibangun sepanjang pertandingan. Memang secara statistik dan jalannya laga, Spanyol lebih mendominasi dibanding Argentina," ujarnya.
Meski tim idolanya keluar sebagai pemenang, Zavi mengajak seluruh pendukung untuk tetap menjunjung tinggi sportivitas. Baginya, rivalitas hanya berlangsung selama 120 menit di lapangan, sedangkan persaudaraan antarsuporter harus tetap terjaga.
"Buat para pendukung Argentina, tetap semangat. Namanya juga sepak bola, ada menang dan ada kalah. Yang penting tetap sportif," katanya. Ia kemudian menutup pernyataannya dengan nada bercanda yang langsung mengundang tawa rekan-rekannya sesama penonton nobar. "Messi tidur di lapangan," ucapnya sambil tersenyum.
Seperti yang pernah disampaikan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri pada perempat final kemarin. Semangat yang hendak dibangun Pemkab Kukar dari Nobar Piala Dunia ini bukan semata-mata menonton sepak bolanya, tetapi juga memperkuat kebersamaan.
"Jadi mari sama-sama menjaga kondusivitas, serta mempererat harmonisasi masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara," lanjutnya.
Meski tim andalannya, Argentina kalah. Aulia menyebut hal tersebut adalah hal lumrah. Namun yang paling utama adalah apa yang terjadi setelah pertandingan itu—terjaganya taki persaudaraan. "Dalam sepak bola, menang atau kalah itu hal yang biasa. Masing-masing orang punya tim favoritnya. Tetapi setelah pertandingan selesai, kita kembali berkumpul, bercengkerama, dan menjaga persaudaraan sebagai warga Kutai Kartanegara," tutup Aulia.
Di tengah riuh selebrasi pendukung Spanyol dan kekecewaan yang dirasakan kubu Argentina, satu hal tetap menjadi pemandangan yang paling menonjol di halaman Pendopo Odah Etam. Seusai peluit panjang dibunyikan, para penonton kembali berbaur, saling bersalaman, berbincang, dan mengabadikan momen bersama.
Rivalitas yang sempat menghangat selama 120 menit pun berakhir menjadi cerita, menyisakan semangat kebersamaan yang sejak awal ingin dihadirkan melalui nobar tersebut. Piala Dunia memang melahirkan satu juara, tetapi pagi itu, kebersamaan masyarakat Kutai Kartanegara menjadi kemenangan yang dirasakan semua orang. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co