PROKAL.CO, TENGGARONG – Menjelang senja, langit Danau Semayang perlahan berubah jingga. Angin kemarau berembus pelan di atas hamparan rumput yang beberapa bulan lalu masih tertutup air. Di kejauhan, siluet pulau-pulau kecil tampak muncul dari permukaan danau, sementara suara mesin perahu warga bersahutan mengantar wisatawan yang datang hanya untuk satu momen: menyaksikan matahari tenggelam di sabana dadakan Desa Pela.
Fenomena musiman itu kembali hadir di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, setelah permukaan air Danau Semayang surut akibat musim kemarau. Danau yang biasanya dikenal sebagai bentang perairan luas kini berubah menjadi hamparan sabana yang menghadirkan lanskap tak biasa di tengah kawasan danau Mahakam.
Ketua Kelompok Sadar Wisata Bekayuh Baumbai Bebudaya (Pokdarwis 3B) Desa Pela, Alimin, mengatakan daratan yang muncul baru mulai dapat dikunjungi dalam beberapa hari terakhir. Meski luasnya belum sebesar tahun lalu, kawasan tersebut terus menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
“Luasnya memang belum seperti tahun lalu, tetapi masih berpotensi terus bertambah. Ini sudah banyak orang datang dari baru timbul. Karena dia terakhir terlihat tahun 2024 lalu,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (8/8/2026).
Perubahan wajah Danau Semayang itu menciptakan daya tarik yang sulit ditemukan pada musim lain. Rumput-rumput hijau tumbuh di bekas genangan air, membentuk hamparan luas yang berpadu dengan sisa perairan dan gugusan pulau kecil yang sebelumnya tenggelam.
Bagi warga Pela, kemunculan sabana bukan sekadar perubahan alam, melainkan penanda datangnya musim kunjungan wisata.
Alimin menjelaskan waktu paling ramai biasanya terjadi menjelang matahari terbenam. Cahaya senja yang memantul di genangan air dan padang rumput menciptakan panorama yang menjadi incaran pemburu foto dan videografer udara. “Biasanya mulai ramai sekitar pukul 16.00 Wita. Banyak pengunjung datang untuk menikmati sunset dan mengambil foto, pakai drone juga,” katanya.
Dari sudut tertentu, lanskap Danau Semayang tampak seperti padang savana yang terhampar di tengah danau purba. Wisatawan dapat berjalan di atas daratan yang muncul sambil menyaksikan langit berubah warna dari keemasan menjadi merah tembaga sebelum matahari menghilang di balik horizon Mahakam.
Fenomena itulah yang membuat kunjungan wisata ke Desa Pela meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Wisatawan datang tidak hanya dari Kutai Kartanegara, tetapi juga dari Balikpapan, Jakarta, hingga luar Kalimantan.
Meningkatnya kunjungan langsung menggerakkan ekonomi warga setempat. Permintaan jasa transportasi air seperti longboat, kapal ces, hingga perahu kecil milik warga meningkat sejak sabana kembali muncul.
Pokdarwis Desa Pela turut membantu menghubungkan wisatawan dengan warga yang menyediakan layanan penyeberangan menuju lokasi sabana. Untuk perjalanan dari Kota Bangun, tarif longboat berkisar Rp600 ribu pulang-pergi, sedangkan dari Liang Ulu sekitar Rp500 ribu. Paket tersebut umumnya sudah mencakup susur sungai, wisata edukasi melihat pesut Mahakam, hingga kunjungan ke kawasan Danau Semayang.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan dengan biaya lebih terjangkau, tersedia perahu kecil milik warga dengan tarif sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu pulang-pergi. Selain menikmati pemandangan sabana, pengunjung juga dapat mencoba wahana paddle board yang disewakan warga dengan tarif Rp50 ribu per jam atau Rp25 ribu untuk durasi 30 menit.
Alimin juga menyebut, kawasan sabana baru benar-benar aman diakses sekitar lima hari terakhir. Sebelumnya, daratan masih berlumpur dan sempat kembali tergenang ketika permukaan air naik. “Sekarang air sudah kembali surut sehingga savananya mulai menghijau dan aman dikunjungi. Biasanya puncak kunjungan terjadi pada pertengahan Agustus,” tuturnya.
Ia menambahkan, tren kunjungan wisata ke Desa Pela sepanjang 2026 memang menunjukkan peningkatan. Selain fenomena sabana musiman, tingginya minat wisatawan untuk melihat habitat pesut Mahakam menjadi faktor lain yang membuat Desa Pela semakin dikenal sebagai destinasi wisata berbasis alam dan konservasi.
“Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan dari negara Eropa. Mereka tidak hanya ingin melihat sabana, tetapi juga menikmati wisata edukasi pesut Mahakam,” ujarnya.
Bagi banyak pengunjung, Danau Semayang pada musim kemarau menawarkan pengalaman yang berbeda dari danau pada umumnya. Saat air surut, bentang perairan yang luas berubah menjadi padang sabana sementara yang hanya muncul pada waktu tertentu setiap tahun. Dan ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat Mahakam, hamparan rumput yang semula sederhana berubah menjadi panggung alami terbaik untuk menikmati salah satu senja paling indah di Kutai Kartanegara. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co