PROKAL.CO, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong pelaksanaan wajib belajar satu tahun pendidikan prasekolah melalui penguatan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pendataan anak hingga tingkat desa dan kelurahan menjadi salah satu langkah yang ditekankan agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan sebelum masuk sekolah dasar (SD).
Bunda PAUD Kukar Andi Deezca Pravidhia meminta pemerintah kecamatan, desa, kelurahan, kader PKK, Posyandu, dan tenaga pendidik aktif mendatangi masyarakat untuk mendata anak usia prasekolah sekaligus mengajak orang tua mendaftarkan anaknya ke PAUD.
“Sekarang ini kita jangan tunggu bola. Kita jemput bola dengan mendatangi masyarakat. Ibu-ibu kader ETAM, PKK, Posyandu, sambil mendata, kita sekalian sosialisasi dan ajak orang tuanya untuk mendaftarkan anak-anak ke PAUD,” ujarnya dalam kegiatan Publikasi dan Sosialisasi Strategi Pelaksanaan Wajib Belajar 1 Tahun Pendidikan Prasekolah Tahun 2026 di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Senin (26/10/2026).
Menurut Deezca, perluasan akses pendidikan prasekolah tidak cukup hanya dengan mendorong angka partisipasi. Pemerintah juga harus memastikan layanan PAUD yang aman, menyenangkan, dan berkualitas, sehingga seluruh anak di Kukar memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.
Ia menegaskan, anak-anak di wilayah hulu, pesisir, maupun zona tengah Kukar harus mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama. Keterbatasan informasi, jarak, kondisi ekonomi, dan lingkungan tidak boleh menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh hak pendidikan.
“Pendidikan prasekolah itu bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua. Pada masa ini, fondasi karakter, kemampuan berpikir, berbahasa, serta kemandirian anak mulai dibangun,” katanya.
Deezca menekankan tiga hal dalam pelaksanaan program tersebut. Pertama, pendataan terpadu dan penguatan layanan inklusi agar anak yang belum terjangkau pendidikan prasekolah dapat teridentifikasi.
Kedua, kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pendidikan dengan pemenuhan gizi, kesehatan, pengasuhan positif, dan perlindungan anak. Ketiga, peningkatan kualifikasi pendidik serta kualitas pembelajaran PAUD.
Ia mengingatkan agar pembelajaran pada anak usia dini tidak dibebani tuntutan akademik yang melampaui tahap perkembangannya. Proses belajar harus menyenangkan, berpusat pada anak, serta berbasis permainan yang bermakna.
Fokusnya membangun rasa ingin tahu, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, kebiasaan baik, dan karakter positif. Deezca juga mengajak masyarakat mengubah pandangan bahwa PAUD hanya menjadi tempat bermain atau sekadar persiapan masuk SD.
“PAUD adalah ruang bagi anak untuk mengenali dirinya, berinteraksi, dan membangun nilai-nilai kehidupan. Menyekolahkan anak ke PAUD adalah bentuk kasih sayang dan investasi masa depan terbaik bagi kita,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah mengatakan, pelaksanaan wajib belajar satu tahun pendidikan prasekolah menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Menurut dia, Kukar tidak bisa terus bergantung pada sumber daya alam yang terbatas. Karena itu, pembangunan harus diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, mulai dari kompetensi, keterampilan, hingga integritas.
“Pak Bupati kita sering menyampaikan bahwa kita harus melakukan pergeseran dari sumber daya yang ekstraktif ke non-ekstraktif. Salah satunya adalah sumber daya manusia yang harus kita tingkatkan, baik dari sisi kompetensi, skill, maupun integritas. Yang paling penting itu integritas,” ujarnya.
Heriansyah menyebut, Kukar memiliki sekitar 500 satuan pendidikan PAUD, baik negeri maupun swasta, yang telah tersebar di berbagai wilayah. Keberadaan satuan pendidikan tersebut menjadi modal untuk memperluas pelaksanaan wajib belajar prasekolah, termasuk menjangkau anak-anak di desa.
Melalui sosialisasi tersebut, Disdikbud Kukar juga melibatkan mitra PAUD, GTKI, PAUDI, Himpunan PAUDI, tokoh masyarakat, hingga kepala desa. Kolaborasi itu diharapkan memperkuat penyebaran informasi sekaligus memastikan tidak ada anak yang terlewat dari layanan pendidikan prasekolah.
Selain memperluas akses, pemerintah daerah terus melakukan pembenahan sarana dan prasarana PAUD. Heriansyah menyebut, perhatian tidak hanya diarahkan pada kondisi gedung, tetapi juga ketersediaan mebel dan alat peraga pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.
Menurut dia, alat peraga menjadi salah satu kebutuhan penting karena proses belajar PAUD harus memberi ruang bagi anak untuk bermain sekaligus memahami hal-hal baru. Pembelajaran juga perlu membiasakan anak menerapkan nilai-nilai dasar, seperti disiplin, kemandirian, kejujuran, dan kepercayaan diri.
“Bagaimana mereka belajar antre, bagaimana mereka harus tepat waktu. Itu dulu. Kemudian mereka punya kepercayaan diri untuk bisa ditinggalkan oleh orang tuanya saat berada di ruang bermain,” jelasnya.
Melalui penguatan akses, pembenahan fasilitas, dan peningkatan kualitas pembelajaran, pelaksanaan wajib belajar satu tahun pendidikan prasekolah di Kukar diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar sebelum memasuki jenjang SD. (adv/moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co