Kabut Asap Karhutla Mulai Berkurang karena Hujan, DLHK Kukar Minta Warga Tetap Waspada

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Minggu, 8 November 2026 | 23:03 WIB
Plt Kepala DLHK Kukar Yudiarta (Elmo/Prokal.co)
Plt Kepala DLHK Kukar Yudiarta (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) beberapa kali pada bulan November 2026 ini mulai mengurangi konsentrasi asap di udara. Langit yang sebelumnya terlihat pekat kini berangsur cerah, meski Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar belum memastikan angka kualitas udara terbaru.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Kukar Yudiarta mengatakan, hasil pemantauan terakhir pada 22–23 Oktober 2026 di halaman Kantor Bupati Kukar menunjukkan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Saat itu, konsentrasi partikulat halus PM2,5 mencapai 86,70, sedangkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat 133.

“Memang saat sebelum turun hujan, kualitas udara kita itu kurang sehat. Tetapi setelah terjadi hujan beberapa kali di akhir Oktober, kalau dari pantauan kami kualitas udara kita semakin membaik,” ujarnya. Yudiarta menjelaskan, berkurangnya konsentrasi asap dan kondisi langit yang mulai cerah menjadi indikasi awal perbaikan kualitas udara. Namun, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan penurunan angka ISPU maupun kadar PM2,5.

DLHK Kukar belum melakukan pengukuran lanjutan setelah hujan turun. Karena itu, data kualitas udara untuk awal November 2026 belum tersedia. “Setelah terjadinya hujan, kami yakin bahwa ISPU-nya pasti akan menurun. Tapi kami belum bisa menyampaikan terkait dengan data berapa tingkat ISPU, karena kami belum melakukan pengukuran untuk awal November ini,” jelasnya.

Meski kondisi udara mulai membaik, DLHK Kukar tetap mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko paparan polusi. Warga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah serta mengurangi kegiatan luar ruangan apabila tidak mendesak.

Bagi masyarakat yang tetap harus menjalankan rutinitas pekerjaan, Yudiarta menyarankan penggunaan masker sebagai alat pelindung diri. Masyarakat juga diimbau menutup pintu dan jendela rumah apabila tidak diperlukan untuk dibuka.

Warga yang memiliki alat penjernih udara atau air purifier dapat memanfaatkannya untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, dan penderita asma, juga diminta menghindari aktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan. “Kelompok yang rentan kami imbau bisa menghindari kegiatan di luar rumah. Karena khawatir nanti terjadi gangguan kesehatan, terutama kepada kelompok-kelompok yang rentan ini,” katanya.

Yudiarta turut mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah rumah tangga maupun jenis sampah lainnya. Pembakaran sampah berpotensi menambah konsentrasi asap dan memperburuk kualitas udara. Menurutnya, menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran masyarakat melalui kebiasaan yang tidak menambah sumber pencemaran.

“Kami mengingatkan kepada masyarakat untuk bisa membantu tidak membakar sampah. Sampah apa pun yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga itu tidak dibakar, sehingga tidak memperparah konsentrasi asap di udara,” tutupnya. (adv/moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara