Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Mudik Samarinda-Berau Jalur Darat yang Mengesankan, Mudiknya Asyik, Ada “Manis dan Pahit”

Nasya Rahaya • 2024-04-15 10:45:00

PERJALANAN MENGESANKAN: Berlebaran di kampung halaman merupakan keinginan setiap orang. Perjalanan panjang sekitar 14 jam cukup menguras tenaga, ditambah beberapa hal yang harus diperhatikan.
PERJALANAN MENGESANKAN: Berlebaran di kampung halaman merupakan keinginan setiap orang. Perjalanan panjang sekitar 14 jam cukup menguras tenaga, ditambah beberapa hal yang harus diperhatikan.

 

Perjalanan mudik Lebaran H-1 dari Samarinda ke Berau menggunakan kendaraan pribadi sangat berkesan, sekaligus menegangkan. Takut jika ada hambatan di tengah jalan, berisiko tidak sempat Lebaran bersama keluarga.

 

JARAK Samarinda ke Berau sekitar 570 kilometer, melewati tiga kabupaten-kota tetangga. Kutai Kartanegara, Bontang, dan Kutai Timur. Menikmati perjalanan, bertolak dari Kota Tepian sekitar pukul 05.00 Wita. Nopal Adi Wijaya yang berpengalaman berkendara membawa mobil dengan tujuan Samarinda-Berau mengungkapkan, dia bisa menghabiskan waktu 13–15 jam perjalanan normal.

Meninggalkan Samarinda sekitar pukul 06.00 Wita, ditandai dengan garis tengah markah jalan berwarna kuning, menandakan jalanan tersebut merupakan jalur poros provinsi.

Sebelum memulai perjalanan panjang, ada hal yang harus diperhatikan. “Mulai air radiator, filter dan selang bensin, oli mesin, putaran kipas dan AC, rem, lampu rem, dongkrak, dan ban cadangan, harus selalu diperhatikan,” ujarnya.

Untuk penumpang yang gampang mabuk darat, lanjut Nopal, disarankan mengonsumsi obat anti-mabuk setengah jam sebelum berkendara. Menyiapkan banyak minuman dan camilan di jalan. Kesiapan mental dan kesehatan pengemudi juga harus baik. Jangan berkendara dalam keadaan tubuh tidak fit. Sebelum berangkat, persiapkan diri dengan tidur yang cukup. “Apalagi ketika membawa seseorang, keselamatan nyawa penumpang jadi tanggung jawab kami,” sambungnya. 

Musik dengan genre breakbeat ala DJ TikTok viral menemani sepanjang jalan. Bagi Nopal, musik itu menghilangkan rasa ngantuk dan bosannya selama perjalanan. Kendala apa saja bisa saja terjadi. Pohon tumbang kerap jadi masalah. Ditambah “monster” jalanan yang terkadang melintang karena tak kuat menanjak. 

Pukul 09.30 Wita, tiba di Sangatta, dan harus menambah “amunisi” bahan bakar. Dalam perjalanan Sangatta menuju Kecamatan Bengalon, kondisi jalan lumayan buruk dari sebelumnya. Untuk jarak yang cukup singkat, ada lubang besar atau jalanan rusak. Sepanjang mata memandang, kanan dan kiri dipenuhi lubang tambang yang menganga besar, menyisakan sedikit saja hutan-hutan kecil di beberapa bagian.

 

Perjalanan panjang itu menyisakan kesan manis dan pahit. Manis menyaksikan pemandangan yang indah, terutama pemandangan karst yang berada di antara Kutim dan Berau. Kemudian Gunung Minyak di daerah Kecamatan Kelay dan Pegunungan Letta. Pemandangan terbaik banyak didapatkan di perbatasan antara Kutim dan Berau.

 

Sekelompok monyet terkadang muncul di pinggir jalan. Tidak disarankan memberi makan. Pasalnya, monyet-monyet tersebut bisa berubah agresif dan ketergantungan untuk diberi makan pengendara yang melintas.

 

Namun, ada hal pahit ketika melihat banyak lahan yang tidak atau secara sengaja dibakar. Lahan-lahan terbakar itu ingin dibuat kebun, belum lagi lubang tambang yang menambah rusaknya lingkungan.

 

Dengan perjalanan sejauh itu, Nopal bisa menghabiskan bahan bakar 60 liter jenis pertalite atau sekitar Rp 600 ribu dalam sekali perjalanan Samarinda-Berau. (dra/k16)


NASYA RAHAYA

@nasyarahaya

Editor : Indra Zakaria
#jalan jalan #sangatta