Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengenal Bag Lady Syndrome: Ketakutan Berlebih Kehabisan Uang yang Mengintai Kesehatan Mental

Redaksi Prokal • Minggu, 12 April 2026 - 09:30 WIB
Wanita dan uang.
Wanita dan uang.

PROKAL.CO– Rasa cemas saat mengeluarkan uang meskipun kondisi finansial sedang stabil ternyata bukan sekadar kekhawatiran biasa. Fenomena psikologis ini dikenal dengan istilah Bag Lady Syndrome, sebuah kondisi di mana seseorang memiliki ketakutan mendalam akan kehabisan uang hingga membayangkan masa depan yang miskin, meski realitanya mereka berkecukupan.

Walaupun bukan diagnosis medis resmi, para ahli keuangan dan psikolog menilai kondisi ini sangat nyata dan dapat menyebabkan stres berkepanjangan jika tidak ditangani dengan bijak. Terapis keuangan sekaligus pekerja sosial, Lindsay Bryan-Podvin, menjelaskan bahwa sindrom ini sering kali muncul sebagai kecemasan tentang ketidakmampuan mempertahankan gaya hidup di masa depan. Menurutnya, kondisi ini merupakan bentuk kekhawatiran yang tidak selaras dengan kenyataan finansial saat ini.

“Ini biasanya berupa kecemasan mendalam tentang ketidakmampuan mempertahankan gaya hidup di masa depan, meskipun kondisi finansial saat ini sebenarnya cukup baik,” ujar Lindsay dalam sebuah kesempatan.

Senada dengan hal tersebut, pendiri platform edukasi keuangan, Bola Sokunbi, menambahkan bahwa kondisi ini lebih berkaitan dengan rasa aman dan kebutuhan akan kontrol dibandingkan jumlah saldo di rekening. Banyak orang merasa segalanya bisa runtuh kapan saja tanpa alasan yang jelas, meskipun mereka memiliki tabungan yang memadai.

Individu yang mengalami Bag Lady Syndrome cenderung menunjukkan perilaku hypervigilance atau kewaspadaan berlebihan. Mereka sering memeriksa kondisi keuangan secara berulang-ulang dan merasa bersalah saat membeli barang yang sebenarnya sangat mampu mereka beli.

Dampaknya pun merambah ke kehidupan sosial, di mana penderita cenderung menarik diri dari pergaulan demi menghindari kegiatan yang melibatkan pengeluaran uang. Selain itu, mereka sering kali enggan berinvestasi karena takut kehilangan aset, atau justru menimbun barang secara berlebihan sebagai kompensasi dari rasa takut akan kekurangan di masa depan.

Pakar kesehatan, Cathleen Bell, menyebut trauma masa lalu sering menjadi pemicu utama dari sindrom ini. “Banyak orang membawa trauma finansial, seperti perceraian, kehilangan pekerjaan, atau tumbuh dalam kondisi ekonomi tidak stabil,” ungkapnya.

Langkah Mengatasi Kecemasan Finansial

Meski terasa menghimpit, para pakar menyarankan beberapa langkah konkret untuk mengelola rasa takut ini secara perlahan. Langkah awal yang paling penting adalah menyadari dan menerima rasa takut tersebut tanpa menghakimi diri sendiri, karena memahami bahwa keinginan untuk merasa aman adalah hal yang manusiawi.

Selanjutnya, Lindsay Bryan-Podvin menyarankan pembuatan perhitungan konkret dan logis terkait kekhawatiran yang dimiliki. Misalnya, jika seseorang takut kehilangan pekerjaan, ia bisa menghitung secara terperinci berapa lama dana darurat yang dimiliki dapat bertahan. Dengan memahami data yang realistis antara pemasukan dan pengeluaran, seseorang dapat membangun rasa percaya diri berdasarkan fakta, bukan asumsi ketakutan.

Terakhir, penting untuk memberi ruang bagi diri sendiri dalam menikmati hidup. Pengeluaran kecil yang terencana tidak akan meruntuhkan masa depan finansial seseorang secara instan.

“Mengubah cara pandang terhadap uang, dari berbasis ketakutan menjadi rasa aman, dapat memberikan dampak besar, tidak hanya secara finansial tetapi juga emosional,” pungkas Lindsay. Dengan keseimbangan antara perencanaan yang matang dan apresiasi terhadap hidup saat ini, rasa cemas perlahan dapat digantikan dengan ketenangan dalam mengelola keuangan. (*)

Editor : Indra Zakaria
#wanita #uang