Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sering Merasa "Gak Sreg" dengan Seseorang? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Vibe yang Tak Bisa Bohong

Redaksi Prokal • Selasa, 12 Mei 2026 | 06:45 WIB
ilustrasi getaran (vibe). AI
ilustrasi getaran (vibe). AI

PROKAL.CO – Pernahkah Anda bertemu seseorang yang bicaranya sangat manis, namun entah mengapa bulu kuduk Anda merinding atau hati kecil berbisik untuk tidak memercayainya? Fenomena yang sering kita sebut sebagai "vibe" atau getaran energi ini ternyata bukan sekadar perasaan mistis, melainkan hasil kerja sistem sensorik dan otak yang sangat logis.

Dalam dunia psikologi dan komunikasi, istilah "vibe tak bisa bohong" memiliki landasan ilmiah yang kuat. Para ahli menilai bahwa meskipun mulut bisa dirancang untuk berbohong, tubuh manusia sebenarnya tidak memiliki "tombol edit". Manusia mungkin bisa menyusun kata-kata selama berjam-jam, namun mikro-ekspresi dan gestur tubuh adalah reaksi bawah sadar yang muncul dalam sepersekian detik.

Ketidaksinkronan inilah yang sering kita tangkap sebagai sinyal bahaya. Jika seseorang berpura-pura bahagia padahal hatinya menyimpan kebencian, akan muncul glitch atau gangguan antara kata-kata dengan tatapan mata atau posisi bahu mereka. Otak kita kemudian menangkap anomali ini dan menerjemahkannya sebagai "vibe yang buruk".

Selain itu, apa yang kita sebut sebagai intuisi sebenarnya adalah pengolahan data super cepat oleh otak. Otak manusia mampu mengumpulkan ribuan detail kecil dalam sekejap, mulai dari intonasi suara yang terdengar dipaksakan, kecepatan kedipan mata, hingga feromon atau aroma tubuh yang dilepaskan saat seseorang merasa stres atau agresif. Hasil simpulan instan dari semua data itulah yang kita rasakan sebagai vibe.

Aspek biologi juga memegang peranan penting melalui hukum resonansi emosi. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki mirror neurons atau saraf cermin yang membuat kita cenderung "tertular" emosi orang lain. Jika seseorang membawa aura kegelisahan atau niat tersembunyi, sistem saraf kita dapat merasakannya meskipun orang tersebut berusaha terlihat setenang mungkin. Getaran mereka secara otomatis tidak akan cocok dengan frekuensi kejujuran yang kita harapkan.

Vibe juga berkaitan erat dengan konsistensi energi. Seseorang yang memiliki pembawaan baik biasanya memiliki keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan. Sebaliknya, mereka yang berniat buruk atau mencoba menipu cenderung memiliki "energi yang pecah" karena fokus mereka terbagi antara mempertahankan kebohongan dan menutupi jati diri yang asli.

Kesimpulannya, vibe adalah bahasa jujur yang diucapkan oleh jiwa dan tubuh saat mulut sibuk bersandiwara. Jika logika Anda berkata seseorang terlihat baik-baik saja namun perasaan Anda menyuruh untuk menjauh, besar kemungkinan sistem sensorik Anda sedang melihat kebenaran yang belum sempat diproses oleh akal sehat. Jadi, jangan abaikan insting Anda—terkadang ia tahu lebih dulu apa yang luput dari pandangan mata. (*)

Editor : Indra Zakaria
#vibe #aura