Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Test Ratio Masih Sangat Rendah, Menanti uji Covid-19 Lebih Banyak Lagi

izak-Indra Zakaria • Selasa, 23 Juni 2020 - 01:10 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Masih terlalu dini untuk menilai apakah penularan Covid-19 di Indonesia masih tinggi atau sudah menurun. Sebab, jumlah orang yang dites sehubungan dengan penyakit tersebut juga tak kunjung naik secara signifikan.

 

DATA yang disajikan tim Kawal Covid-19 menunjukkan testing ratio untuk Covid-19 di Indoensia masih rendah. Testing ratio ini menunjukkan rerata jumlah orang baru yang dites per satu kasus positif baru. Testing ratio bisa dijadikan tolok ukur awal apakah sebuah negara sudah siap untuk mengakhiri pandemi Covid-19.

Test ratio itu juga dijadikan tolok ukur di berbagai negara untuk melihat apakah pandemi di wilayah-masing-masing sudah mulai mereda. Situs worldometer menjadikan test ratio sebagai bagian dari kompilasi sejumlah datanya. ’’Tidak ada satupun negara dengan testing ratio yang kurang dari 10 yang sebenarnya menyelesaikan pandemi ini,’’ Terang perwakilan tim data Kawal Covid-19 Ronald Bessie.

 Cara menghitungnya adalah membagi jumlah orang yang dites dengan jumlah kasus positif. Hasilnya, sepekan terakhir testing ratio Indonesia masih berkutat di angka 8, dengan tren yang terus menurun. Per kemarin (21/6), testing ratio di Indonesia hanya 8,35. Artinya, dari 1 kasus positif ada 8-9 orang baru yang dites virus menggunakan metode swab.

Untuk mencari tahu siapa saja yang tertular, PCR tes menjadi andalan. Namun, ketika yang dites masih sedikit, tidak bisa menunjukkan apa-apa selain jumlah kasus yang terus bertambah. Karena penularan Covid-19 bersifat eksponensial, cara satu-satunya untuk memetakan penularannya adalah dengan memperbanyak orang yang dites.

Cara tersebut ibarat nelayan menjala ikan. Dengan sekali menjala, nelayan bisa mendapatkan 500 ikan lemuru dan 30 ekor tuna. Karena yang diincar adalah tuna, jala pun dilebarkan. Maka sekali menjala dia bisa mendapatkan 80 ribu ekor lemuru dan 250 ekor tuna.

 Begitu pula dengan tes Covid-19. Semakin banyak yang dites, maka semakin banyak pula kasus positif yang potensial terjaring. Sebagai bahan pemetaan kasus, penambahan kasus baru yang semakin banyak justru memudahkan pemetaan. Untuk mendapatkannya, diperlukan jala yang besar. yakni, dengan mengetes sebanyak-banyaknya orang.

Menurut Ronald, Indonesia cukup beruntung karena ada sistem tracing yang berjalan. Hanya saja, tracing tersebut tidak diikuti dengan tes . Setelah di-tracing, ketemu, bila tidak ada gejala tidak dites. Atau kontaknya dinilai tidak cukup erat dengan pasien, itu juga tidak dites atau diisolasi. Padahal, seharusnya semua hasil pelacakan itu dites atau minimal diisolasi tanpa kecuali.

Bila mereka menolak dites, konsekuensinya adalah wajib isolasi mandiri selama 14 hari. Bila saat isolasi dia bergejala, baru dirawat di RS. Jika tidak mau isolasi, maka harus mau dites swab. Kalau hasilnya negatif dia tidak perlu isolasi.

 Untuk Indonesia, bila ingin  mengetahui sebaran penyakitnya, maka testing ratio minimal harus 25. Menurut Ronald, harusnya lebih banyak dari itu. namun setidaknya 25 bisa menjadi acuan minimal. Malaysia misalnya, testing ratio di negara itu mencapai 80 lebih. Vietnam lebih tinggi lagi, yakni 600. Artinya tiap satu termuan kasus positif ada 600 orang baru yang dites. ’’Makanya jumlah kasus mereka (Vietnam) sedikit. Mereka sudah keburu nangkep semua ikannya sebelum lepas,’’ ucap Ronald.

                Karena itu, Indonesia tidak bisa langsung bernafas lega bila tes perhari nantinya bisa tembus 20 ribu. ’’Kalau kita ambil katakanlah 1.500 kasus perhari, kira-kira kita harus punya kapasitas tes sebesar 40 ribu perhari,’’ tutur Ronald. Tanpa tes yang banyak, kita akan kesulitan menjala kasus yang penularannya semakin ke mana-mana.

                Dengan dukungan sistem tracing yang berjalan saat ini, Indonesia tidak harus melakukan random test untuk saat-saat sekarang. Karena lokasi orangnya sudah diketahui. Tinggal dites untuk memastikan apakah dia positif atau negatif Covid-19.

                Untuk mencapai jumlah tes yang ideal, maka kemampuan tesnya juga harus ditambah. Menurut Ronald, saat ini pemerintah tidak perlu membangun lab BSL 2 yang baru. ’’Cukup dengan lab BSL 1 yang di-upgrade,’’ ujarnya. Biayanya lebih murah ketimbang membangun yang baru. Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung melakukan hal itu.

                Cara lain untuk meningkatkan kemampuan tes adalah mengalihkan tes bagi pasien yang akan sembu. Menurut dia, WHO sudah membuat petunjuk tentang metode itu beberapa pekan lalu. Pasien Covid-19 yang dirawat dalam standar waktu tertentu bisa langsung dilepas dengan syarat tidak lagi menunjukkan gejala. Tidak lagi perlu dites ulang.

                Ronald belum bisa memastikan apakah Indonesia akan menggunakan metode tersebut atau tidak. tapi kalau itu diterapkan secara nasional, akan baik untuk Indonesia. ’’Kapasitas testing kita itu sebenarnya langsung kira-kira berlipat jadi 3 atau 4,’’ ujarnya. Jatah dua kali tes bagi pasien calon sembuh bisa dialihkan ke orang-orang baru. Singapura sudah mulai mengadopsi petunjuk baru tersebut.

Ronald mengingatkan, Indonesia memiliki wilayah yang luas. Maka, ini saatnya mendorong peran pemerintah daerah untuk memenuhi kuota tes PCR yang ditentukan pemerintah. ketika secara nasional ditentukan 20 ribu perhari, maka semua daerah harus merupaya memenuhinya. Caranya, dengan mengetes semua kontak pasien Covid-19.

Dia yakin di kabupaten yang kecil, kasusnya belum terlalu banyak. Sehingga untuk memenuhi  200 tes perhari masih bisa dikejar. Bila tidak ada lab BSL 2, cukup dengan menaikkan level lab BSL 1. Lain halnya dnegan Surabaya misalnya yang jumlah kasusnya sudah tembus 3.000. maka, seharusnya kapasitas lab Surabaya harus lebih tinggi dari yang sekarang. Bila hari ini ada 100 kasus baru, maka semua lab di Surabaya harus mampu mengetes minimal 2.500 orang keesokan harinya.

Hampir semua negara di Eropa kecuali Portugal dan Jerman, awalnya hanya memiliki testing ratio 4. Alhasil, mereka kewalahan. Ketika terjaring, orang-orang itu sudah dalam kondisi yang parah. ’’Kemudian mereka setahap demi setahap menaikkan kapasitas tracingnya. Tapi ya sudah keburu banyak yang meninggal,’’ imbuh pria kelahiran Surabaya itu.

PSBB yang dilakukan sebenarnya bisa menjadi momen yang baik untuk meningkatkan testing ratio. Dengan kondisi yang dilepas seperti saat ini, kemungkinannya kasus akan naik terus. Akan semakin sulit terkendali. Maka, ke depan yang harus dilakukan pemerintah sederhana saja. Untuk setiap kasus baru, harus ada minimal 25 kontak erat yang dites. Semakin banyak kontak yang dites, semakin baik.

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Pandu Riono menyampaikan bahwa semua negara yang sudah masuk kategori berhasil menangani Covid-19 memiliki ratio test tinggi. Dia menyebut, dengan angka tersebut ratio test di Indonesia masih termasuk rendah. Karena itu, dia mendorong supaya pemerintah terus berusaha meningkatkan kapasitas tes.

Bila perlu tes Covid-19 per hari dimaksimalkan sampai menyentuh angka 50 ribu. ”Dan nggak boleh ada antrean lagi. Kalau ada kasus kemarin dicurigai Covid-19 harusnya hari ini sudah keluar (hasil tesnya),” ungkap Pandu. Dia hasil tes jangan sampai lewat dari dua atau tiga hari. Semakin cepat keluar, kian cepat juga pemerintah bisa mengambil langkah terhadap masyarakat yang hasil tesnya positif.

Mulai melaksanakan prosedur isolasi sampai contact tracing.  Sehingga potensi virus menyebar dari satu orang ke orang lain semakin kecil. ”Karena identifikasi, yang membawa virus ketahuan, diisolasi,” imbuhnya. Dengan itu, secara otomatis masyarakat terinfeksi Covid-19 berkurang. ”Semakin banyak testing semakin terjadi penurunan,” imbuhnya. Untuk itu, dia termasuk yang senang melihat angka positif Covid-19 saat ini.

Pandu menilai pertumbuhan masyarakat positif Covid-19 tidak melulu bisa dilihat dari sudut pandang negatif. Menurut dia itu justru kabar baik. ”Karena testing-nya sudah bagus sekarang. Dulu testing-nya jelek sekali,” imbuhnya. Dia menilai angka pasien positif Covid-19 sebelumnya lebih kecil lantaran kapasitas tes juga sedikit. Dengan kemampuan tes saat ini, pantas bila jumlah pasien positif Covid-19 yang terdeteksi semakin banyak.

                Menurut Pandu, hasil tes saat ini bukan pertambahan. Sebab, dia menilai bahwa jumlah masyarakat Indonesia terinfeksi Covid-19 sejak awal sudah tinggi. Hanya, kemampuan tes yang minim membuat pemerintah kesulitan mendeteksi keberadaan mereka. ”Artinya dengan peningkatan kemampuan testing, apalagi dengan contact tracing yang aktif, kita akan menemukan yang terinfeksi,” bebernya.

Karena itu pula, dia menyatakan, kepala daerah tidak perlu khawatir atau takut bila ditemukan banyak pasien Covid-19 di daerah mereka. Dia mengungkap itu lantaran melihat ada beberapa kepala daerah khawatir bila daerah yang dipimpin masuk zona merah. Alasannya takut merusak citra atau khawatir kalah dalam pilkada. Justru, dia menilai, saat ini perlu dilaksanakan pemeriksaan ulang di daerah yang temuan kasusnya masih minim.

Pandu menekankan, perlu dipastikan berapa banyak tes sudah dilaksanakan. Juga berapa banyak masyarakat yang sudah dites. Bila masih rendah, harus dilaksanakan tes ulang. Jangan sampai pemerintah memberikan rasa aman palsu kepada masyarakat. ”Testing-nya nggak ada ya nggak ditemukan kasus,” imbuhnya. Dia menekankan, yang penting saat ini perbanyak tes untuk menekan potensi penularan.

Salah satu langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah menambah laboratorium. Kemudian menambah SDM untuk operasional laboratorium tersebut. Setiap daerah, harus memiliki laboratorium. Dia yakin anggaran yang tersedia cukup untuk membangun laboratorium di daerah. ”Nggak mahal,” tegasnya. Apalagi saat ini pemerintah sudah gencar bersiap memasuki new normal.

Menurut Pandu, kondisi yang disebutnya abnormal itu harus dibarengi kemampuan tes tinggi. Pemerintah boleh menyatakan masuk new normal dengan catatan-catatan tersendiri. Selain memenuhi protokol kesehatan, juga sanggup melaksanakan pemeriksaan dengan kapasitas besar. Tujuannya untuk deteksi dini. ”Kalau sedini mungkin itu kita bisa mencegah untuk tidak menularkan kepada yang lainnya,” imbuh dia. (byu/syn)

Editor : izak-Indra Zakaria
#corona #Sulawesi dan Jawa