Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ini Kata Dokter Terkait Penyebab Bayi Lahir dengan 24 Jari di Sampang, Madura

Hendriyanto • 2024-02-05 22:09:44
Bayi Amira Anisatul Nisak didampingi ibunya di Camplong, Sampang, Madura.
Bayi Amira Anisatul Nisak didampingi ibunya di Camplong, Sampang, Madura.

 

 Fausi dan Subaidah adalah sepasang suami istri  yang hidup di Dusun Mandala Barat, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang, Sampang, Jawa Timur. Mereka dikaruniai dua orang anak lelaki bernama Arif Rahmatullah yang masih duduk di bangku SMP dan adiknya Adfan yang duduk di bangku SD.  

Hingga tiba hari bahagia menyelimuti kedua pasangan suami istri tersebut, lantaran ibu Subaidah baru saja melahirkan seorang bayi perempuan bernama Amira Hilyatun Nisak. Tepat pada Selasa (23/1/2024) bayi perempuan bernama Amira Hilyatun Nisak lahir dari rahim perempuan berusia 30 tahun di tempat bidan praktik desa.

Kelahiran bayi perempuan cantik tersebut sontak membuat keluarga bahagia sekaligus merasa was-was karena ada kelainan pada sang bayi.

Baca Juga: Amira Hilyatun Nisak, Bayi yang Lahir dengan 24 Jari Tangan dan Kaki, Sang Ibu saat Hamil Sempat Lihat Kepiting, Bukan Cacat tapi Anugerah

 

Diketahui bahwa sang bayi tidak berhenti menangis saat baru lahir, segara sang bidan mengecek kondisi si bayi. Betapa mengejutkan setelah cek kondisi fisik sang bayi, bidan menemukan keanehan pada fisik si bayi, lebih tepatnya jumlah jari kaki dan tangannya ada enam. Total ada 24 jari tangan dan kaki.

Namun, setelah di cek oleh bidan yang bertugas, bayi yang semula tidak berhenti menangis tiba-tiba berhenti. Fausi, sang ayah menduga bahwa putrinya sengaja memberi tahu lewat tangisan bahwa dirinya mempunyai kelainan. ”Anehnya, setelah itu anak saya tidak menangis lagi. Mungkin dia (bayi) menangis karena ingin ngasi tahu (kalau jarinya lain),” cerita Fausi kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Selasa (30/1).

 

Sebagai orang tua, lelaki berusia 40 tahun tersebut sangat kaget begitu tahu bahwa putrinya yang baru lahir, jarinya tidak normal. ”Ini bagian anugerah dari yang kuasa,” begitulah ungkap Fausi mencoba mencairkan suasana sekaligus menunjukkan bahwa kehendak tuhan tidak terbantahkan. 

Diketahui dari penuturan sang ibu, selama kehamilan dirinya tidak pernah mengalami hal yang aneh-aneh seperti ngidam dan sebagainya. Hanya saja, tidak seperti kehamilan kedua kakaknya, Ibu Subaidah merasakan gerakan Amira yang masih dalam kandungan lebih pasif.

Subaidah mengaku selalu memeriksa kondisi kandungan Amira saat itu ke Posyandu untuk mengetahui perkembangannya. Diluar kejadian tersebut, ternyata Ibu Subaidah sudah menyangka bahwa ia sedang mengandung anak perempuan.  

”Kalau merasakan gerakan di dalam perut, saya sudah ada firasat kalau perempuan karena lebih pelan dibanding kakak-kakaknya,” ungkapnya. Mengenai Amira yang lahir dengan jari tidak normal dan tidak seperti jari pada anak secara umum, Subaidah mengaku tidak tahu akan hal tersebut.

Bahkan ia  mengaku bahwa tidak ada keturunan yang memiliki kelainan pada jari kaki atau tangan di keluarganya dan keluarga suami. Ibu Subaidah sempat bercerita bahwa pada usia kehamilan empat hingga lima bulan, ia memiliki kebiasaan aneh.

Dirinya mengaku merasa heran saat melihat kaki kepiting yang banyak ketika bekerja dirumah makan di desanya.

 

Keheranan Ibu Subaidah terhadap jumlah kaki kepiting yang banyak juga tidak beralasan, dia mengaku hanya heran saja. ”Tidak tahu kenapa, heran aja melihat kaki kepiting karena banyak,” begitulah pengakuan Ibu Subaidah saat itu.

Namun hal tersebut hanya dianggap mitos belaka, hal tersebut diungkapkan langsung oleh dr, Sri Astuti Eviningrum. Menurut dokter spesialis anak RSUD dr Mohammad Zyn Sampang tersebut, dirinya belum mengetahui penyebab bayi Amira mengalami kelainan, apakah itu masuk kongenital atau bawaan.

Butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk menganalisis kejadian ini, apakah murni penyakit atau dipengaruhi faktor lain. ”Kalau kongenital itu genetik atau murni proses pembentukan saat dalam kandungan,” ungkap dr Sri Astuti Eviningrum.

Mengenai rasa heran saat melihat kaki kepiting yang banyak, dr Sri Astuti menjelaskan secara tegas bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali. ”Iya, tidak ada hubungan melihat kepiting atau tidak,” ujarnya lagi. 

Mengenai kondisi putrinya yang lahir dengan 24 jari, Ibu Subaidah mengaku sudah berembuk dengan keluarga besarnya. Keputusan keluarganya sudah bulat untuk tidak menghilangkan jumlah jari yang lebih pada bayi Amira tersebut.

”Kalau dipaksa operasi (dipotong), keluarga mengancam mau ngambil Amira,” papar Subaidah. Hal tersebut juga didukung oleh dr Sri Astuti, bahwa semua keputusan yang terbaik ada pada pihak keluarga. ”Kalau tidak mau dihilangkan itu pilihan, selama tidak mengganggu fungsinya,” imbuh dr Astuti.

Bagi dr Astuti, jari yang lebih hanya soal estetika karena tidak sama dengan yang lain, yang paling penting semuanya berfungsi dengan baik. Hal senada juga disampaikan oleh Yuliani, Bidan Desa Sejati yang membantu proses kelahiran Ibu Subaidah.

Menurutnya sejauh ini pihaknya menyatakan kondisi bayi dalam keadaan sehat, keluarga disarankan untuk rajin konsultasi saja. ”Kalau kesehatan bayinya menurun, harus segera diperiksa. Yang jelas jangan malu untuk konsultasi dan datang ke posyandu,” saran Bidan Yuliani. (amin/dry)

Editor : Indra Zakaria
#bayi