Subaidah mengaku selalu memeriksa kondisi kandungan Amira saat itu ke Posyandu untuk mengetahui perkembangannya. Diluar kejadian tersebut, ternyata Ibu Subaidah sudah menyangka bahwa ia sedang mengandung anak perempuan.
”Kalau merasakan gerakan di dalam perut, saya sudah ada firasat kalau perempuan karena lebih pelan dibanding kakak-kakaknya,” ungkapnya. Mengenai Amira yang lahir dengan jari tidak normal dan tidak seperti jari pada anak secara umum, Subaidah mengaku tidak tahu akan hal tersebut.
Bahkan ia mengaku bahwa tidak ada keturunan yang memiliki kelainan pada jari kaki atau tangan di keluarganya dan keluarga suami. Ibu Subaidah sempat bercerita bahwa pada usia kehamilan empat hingga lima bulan, ia memiliki kebiasaan aneh.
Dirinya mengaku merasa heran saat melihat kaki kepiting yang banyak ketika bekerja dirumah makan di desanya.
Keheranan Ibu Subaidah terhadap jumlah kaki kepiting yang banyak juga tidak beralasan, dia mengaku hanya heran saja. ”Tidak tahu kenapa, heran aja melihat kaki kepiting karena banyak,” begitulah pengakuan Ibu Subaidah saat itu.
Namun hal tersebut hanya dianggap mitos belaka, hal tersebut diungkapkan langsung oleh dr, Sri Astuti Eviningrum. Menurut dokter spesialis anak RSUD dr Mohammad Zyn Sampang tersebut, dirinya belum mengetahui penyebab bayi Amira mengalami kelainan, apakah itu masuk kongenital atau bawaan.
Butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk menganalisis kejadian ini, apakah murni penyakit atau dipengaruhi faktor lain. ”Kalau kongenital itu genetik atau murni proses pembentukan saat dalam kandungan,” ungkap dr Sri Astuti Eviningrum.
Mengenai rasa heran saat melihat kaki kepiting yang banyak, dr Sri Astuti menjelaskan secara tegas bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali. ”Iya, tidak ada hubungan melihat kepiting atau tidak,” ujarnya lagi.
Mengenai kondisi putrinya yang lahir dengan 24 jari, Ibu Subaidah mengaku sudah berembuk dengan keluarga besarnya. Keputusan keluarganya sudah bulat untuk tidak menghilangkan jumlah jari yang lebih pada bayi Amira tersebut.
”Kalau dipaksa operasi (dipotong), keluarga mengancam mau ngambil Amira,” papar Subaidah. Hal tersebut juga didukung oleh dr Sri Astuti, bahwa semua keputusan yang terbaik ada pada pihak keluarga. ”Kalau tidak mau dihilangkan itu pilihan, selama tidak mengganggu fungsinya,” imbuh dr Astuti.
Bagi dr Astuti, jari yang lebih hanya soal estetika karena tidak sama dengan yang lain, yang paling penting semuanya berfungsi dengan baik. Hal senada juga disampaikan oleh Yuliani, Bidan Desa Sejati yang membantu proses kelahiran Ibu Subaidah.
Menurutnya sejauh ini pihaknya menyatakan kondisi bayi dalam keadaan sehat, keluarga disarankan untuk rajin konsultasi saja. ”Kalau kesehatan bayinya menurun, harus segera diperiksa. Yang jelas jangan malu untuk konsultasi dan datang ke posyandu,” saran Bidan Yuliani. (amin/dry)