Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Rupiah Loyo, Sikap Santai Presiden Prabowo Dikritik Pengamat: Berbahaya dan Menantang Pasar

Redaksi Prokal • Minggu, 17 Mei 2026 | 10:30 WIB
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto

PROKAL.CO – Gelombang kritik mulai berdatangan menanggapi cara komunikasi Presiden Prabowo Subianto dalam merespons merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sikap santai dan kelakar yang dilontarkan Kepala Negara di tengah ketidakpastian ekonomi global dinilai bisa menjadi blunder yang memicu sentimen negatif dari para pelaku pasar.

Kritik tajam salah satunya datang dari Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira. Ia sangat menyesalkan respons Presiden yang terkesan meremehkan situasi, padahal pemerintah seharusnya berada dalam posisi waspada tinggi dan segera menyiapkan langkah taktis ataupun stimulus nyata untuk mengantisipasi kondisi terburuk.

“Kami sangat menyesalkan Prabowo terlalu menganggap enteng situasi sekarang. Harusnya, seperti di banyak negara lain, para pemimpinnya mempersiapkan kondisi terburuk dengan stimulus dan mempersiapkan psikologi publik,” ujar Bhima.

Menurut analisis Bhima, narasi dan cara komunikasi seorang kepala negara memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Di tengah tensi geopolitik internasional yang kian memanas dan memukul mata uang domestik, pernyataan yang salah justru dapat menggerus kepercayaan investor dan pasar finansial.

Sikap optimistis memang diperlukan, namun retorika tanpa kesiapan kebijakan yang matang justru dinilai sebagai langkah yang spekulatif. Bhima mengkhawatirkan gaya komunikasi pemerintah saat ini yang seolah menantang keadaan global, namun tidak dibarengi dengan bantalan ekonomi yang kuat di dalam negeri.

“Nah di Indonesia ini seolah justru menantang, menantang tapi tanpa persiapan. Saya kira sikap-sikap dan cara komunikasi seperti itu sangat-sangat membahayakan psikologi pasar,” jelas Bhima menambahkan. Sebelumnya, dalam sebuah agenda kunjungan kerja di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu (16/5/2026), Presiden Prabowo Subianto menanggapi dengan rileks pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS. Bahkan, mantan Petinggi Militer itu menyindir balik pihak-pihak yang dinilainya terlalu cepat mengambil kesimpulan buruk.

Presiden menyatakan bahwa narasi mengenai kehancuran atau krisis ekonomi selalu saja digoreng dan berulang setiap kali mata uang Garuda mengalami fluktuasi terhadap dolar AS. Ia pun mengimbau agar seluruh lapisan masyarakat tidak menyikapi dinamika kurs ini secara berlebihan hingga menimbulkan kepanikan massal yang tidak perlu.

"Ada yang selalu entah apa saya enggak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa, ya kan? Rupiah begini, rupiah begini, dolar begini," seloroh Prabowo di sela peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah. 

Lebih jauh, Presiden Prabowo menegaskan bahwa fondasi ekonomi riil Indonesia masih sangat kuat. Ia beralasan, mayoritas masyarakat yang hidup di wilayah pedesaan tidak menggunakan mata uang dolar AS dalam perputaran ekonomi sehari-hari, sehingga dampak langsung dari fluktuasi kurs global ini dinilai tidak akan terlalu mengganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat bawah. (*)

Editor : Indra Zakaria
#prabowo subianto