SAMARINDA — Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar Samarinda resmi digelar. Namun, alih-alih sekadar menjadi panggung konsolidasi internal partai beringin, atmosfer pembukaan acara justru memperlihatkan dinamika politik yang sangat menarik. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, tampil sangat dominan dan menyedot perhatian utama seluruh peserta yang hadir.
Kedatangan serta gestur pimpinan tertinggi Kota Samarinda tersebut disambut hangat oleh jajaran pengurus dan kader Golkar. Dalam deretan pidato dan pernyataan resminya, Andi Harun leluasa menyampaikan pesan-pesan politik substansial seolah agenda lima tahunan Golkar tersebut berada penuh dalam kendalinya.
Dalam pidatonya, Andi Harun secara terbuka menyinggung rekam jejak politik, proses pencalonan, hingga penegasan komitmennya membangun iklim demokrasi yang bersih tanpa money politics. Ia menekankan bahwa preferensi pemilih di Samarinda saat ini sangat dipengaruhi oleh kinerja pemerintah kota.
"Preferensi memilih di Kota Samarinda itu ada kaitannya dengan besar pengaruh Wali Kota sekarang. Ibu-ibu semua, selama periode saya ini, alhamdulillah, Rp1 pun demi Allah demi Rasul, kalau saya membanting-banting politik, selamat saya dunia akhirat," tegas Andi Harun.
Ia juga membeberkan bagaimana dinamika komunikasi politiknya dengan jajaran pimpinan pusat partai politik, termasuk partai berkulit kuning tersebut. "Bolehlah di daerah bersilat, tapi kan ada juga jalan-jalan tikus yang boleh kita gempur. Saya ingat persis saya menyelesaikan dengan Partai Golkar itu setelah saya bertemu dengan Pak Nusron Wahid," ungkapnya.
Tidak berhenti di situ, Andi Harun melontarkan kritik keras terhadap praktik politik transaksional oknum wakil rakyat. Ia bahkan mengancam akan membongkar ke publik mengenai oknum anggota DPRD Kaltim Dapil Samarinda yang mengeruk suara di Samarinda tetapi mengalihkan bantuan keuangan ke daerah lain.
Pernyataan-pernyataan menohok ini menegaskan betapa kuatnya kontrol panggung yang dipegang Andi Harun di tengah forum resmi Golkar tersebut. Dominasi sang Wali Kota tidak lepas dari peta politik daerah yang kian memanas, menyusul ketegangan internal di tubuh DPD Partai Gerindra Kaltim yang melibatkan dirinya. Andi Harun tampak semakin membangun kedekatan taktis dengan DPD Partai Golkar Kaltim yang dipimpin Rudy Mas'ud.
Sinyal mesra ini kian nyata terlihat oleh publik. Dalam berbagai kesempatan acara resmi belakangan ini, Andi Harun dan Rudy Mas'ud berulang kali duduk bersama dalam satu meja. Kehadiran Andi Harun yang disambut karpet merah di Musda Golkar seolah menegaskan adanya poros kekuatan baru atau setidaknya kompromi politik tingkat tinggi antara sang Wali Kota dengan pimpinan Golkar Kaltim.
Meski begitu, ketika dikonfirmasi awak media mengenai arah dukungannya dan apakah pernyataan-pernyataannya bersifat kontradiktif dengan statusnya sebagai kader Gerindra, Andi Harun langsung menepis anggapan tersebut.
"Sikap politik saya itu tetap tidak bisa bergeser sebagai kader Partai Gerindra. Tadi saya memberikan sambutan murni dalam kapasitas sebagai Wali Kota. Sebagai kepala daerah, saya harus melihat secara realistis. Partai-partai lain yang memenuhi syarat, silakan maju, tetapi usunglah politik yang bermartabat," kilahnya.
Sementara itu dari ranah internal, Musda memastikan keterpilihan dr. Andi Satya Adi Saputra sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Samarinda secara aklamasi. Sekretaris DPD Golkar Kaltim, M. Husni Fakhruddin, menegaskan bahwa penetapan ini merupakan hasil musyawarah mufakat setelah melalui dinamika internal. Pria yang akrab disapa Ayub ini juga menegaskan adanya mandat mutlak bagi ketua terpilih.
"Ini bukan arahan DPP, tetapi komitmen Ketua DPD Partai Golkar Kaltim dan berdasarkan hasil pleno pertama. Siapa pun yang terpilih menjadi ketua, syarat utamanya adalah wajib maju sebagai calon kepala daerah. Jadi kalau hari ini dr. Adi terpilih, maka beliau wajib menjadi calon Wali Kota Samarinda," tegas Ayub.
Di sisi lain, Andi Satya Adi Saputra selaku ketua terpilih menyampaikan bahwa Musda ini menjadi momentum evaluasi dan penyusunan arah perjuangan partai. Ia menargetkan Golkar Samarinda mampu mereplikasi keberhasilan DPD Golkar Kaltim yang sukses meraih 15 kursi di DPRD Provinsi. "Musda ini bukan hanya melahirkan kepengurusan baru, tetapi menghasilkan semangat baru, budaya baru, dan komitmen baru untuk kembali menjadikan Partai Golkar sebagai kekuatan politik terdepan di Kota Samarinda," pungkasnya.
Rangkaian dinamika di Musda Golkar Samarinda ini kian mempertegas bahwa kontestasi politik menuju Pilkada mendatang tidak hanya soal perebutan kursi internal partai, tetapi juga catur politik antarfigur kunci daerah yang mulai menentukan arah angin koalisi. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co