Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kalahkan Balikpapan dan Kukar, Samarinda Sabet Predikat Kota Paling Tangguh Bencana di Kaltim!

Redaksi Prokal • Senin, 25 Mei 2026 | 07:30 WIB
Tingginya IKD menunjukkan kesiapan Samarinda untuk menghadapi risiko bencana. Samarinda tercatat sebagai peraih IKD tertinggi di Kaltim pada 2025. (DOK BPBD SAMARINDA)
Tingginya IKD menunjukkan kesiapan Samarinda untuk menghadapi risiko bencana. Samarinda tercatat sebagai peraih IKD tertinggi di Kaltim pada 2025. (DOK BPBD SAMARINDA)

 
SAMARINDA — Di tengah bayang-bayang ancaman banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang kerap mengintai, Kota Samarinda justru berhasil mengukir prestasi gemilang. Ibu Kota Kalimantan Timur ini resmi dinobatkan sebagai daerah paling tangguh dalam menghadapi bencana setelah meraih nilai Indeks Ketahanan Daerah (IKD) tertinggi tahun 2025 di Bumi Etam, yakni sebesar 0,86.

Prestasi ini kian sempurna lantaran Kota Tepian juga sukses mencatatkan Indeks Risiko Bencana (IRB) terendah di Kaltim dengan angka 71,48. Berdasarkan indikator kebencanaan nasional yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), perpaduan angka ini adalah duet maut yang ideal. Semakin tinggi nilai IKD menunjukkan kesiapan daerah yang semakin matang, sedangkan semakin rendah nilai IRB menandakan tingkat risiko bencana yang berhasil ditekan sekecil mungkin.

Rapor hijau ini diumumkan dalam Rapat Koordinasi BPBD se-Kaltim dan dikonfirmasi langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, yang didampingi Analis Kebencanaan Ahli Muda, Hamzah Umar. "Yang dinilai bukan hanya tingkat ancaman bencananya, tetapi bagaimana kesiapan sistem pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi, penanganan darurat, hingga pemulihan pascabencana," tegas Suwarso saat memaparkan keberhasilan jajarannya.

Berdasarkan data resmi BNPB, Samarinda kini berdiri kokoh di posisi puncak untuk urusan ketahanan daerah, mengangkangi Kota Balikpapan yang berada di peringkat kedua dengan nilai 0,71. Menyusul di belakangnya ada Kutai Kartanegara dengan nilai 0,69, Berau dengan 0,67, dan Kota Bontang yang meraih 0,57.

Sementara untuk urusan menekan risiko bencana atau IRB, Samarinda juga menjadi yang terbaik dengan angka terendah 71,48. Posisi ini dinilai jauh lebih aman ketimbang Kota Bontang yang mencatat angka 85,25, Penajam Paser Utara dengan 88,54, Balikpapan dengan 89,43, hingga Mahakam Ulu yang menyentuh angka 103,74.

Suwarso menjelaskan bahwa tingginya potensi ancaman alam di Samarinda tidak serta-merta membuat kota ini rapuh. Seringnya musibah banjir dan longsor di masa lalu justru menjadi cambuk yang memaksa pemerintah kota memutar otak dan bergerak lebih agresif.

Keunggulan Samarinda dinilai lahir dari konsistensi pemerintah kota dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana dari hulu ke hilir. Upaya ini diwujudkan lewat penguatan kelembagaan BPBD, koordinasi lintas sektor yang cair, hingga integrasi isu kebencanaan ke dalam dokumen pembangunan daerah.

Berbagai program nyata di lapangan terbukti ampuh mendongkrak nilai IKD Samarinda, mulai dari pembangunan dan normalisasi drainase secara masif, pengendalian banjir melalui pembangunan kolam retensi, hingga penguatan tanggul sungai. Selain infrastruktur fisik, pemerintah kota juga gencar melakukan penyusunan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) serta Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), yang diimbangi dengan peningkatan kapasitas relawan, simulasi kebencanaan rutin, hingga kampanye sadar bencana kepada masyarakat luas.

Kendati di atas kertas Samarinda menjadi kota paling tangguh di Kaltim, Suwarso mengingatkan jajarannya dan masyarakat untuk tidak cepat puas. Pasalnya, tantangan ke depan dipastikan kian berat akibat laju pertumbuhan kota yang pesat, perubahan tata guna lahan, serta dampak nyata dari perubahan iklim.

Pengendalian tata ruang, rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), hingga peningkatan kapasitas siaga bencana sampai tingkat RT dan kelurahan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus digenjot. Namun, capaian ini setidaknya menjadi bukti nyata bahwa daerah yang rawan sekalipun bisa disulap menjadi kota mandiri yang tangguh jika dikelola dengan sistem yang kuat, terencana, dan kolaboratif. “Semakin tinggi IKD, semakin siap kita menghadapi bencana. Semakin rendah IRB, semakin kecil risiko yang kita hadapi,” pungkas Suwarso optimis. (*)

Editor : Indra Zakaria
#BPBD Samarinda