Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Hanya Heboh di Medsos, Faktanya "Longsoran" di Proyek Terowongan Samarinda Cuma Sisa

Redaksi Prokal • Jumat, 29 Mei 2026 | 22:20 WIB
Secara fisik, pembangunan terowongan telah rampung. (MELI/SAPOS)
Secara fisik, pembangunan terowongan telah rampung. (MELI/SAPOS)

 
SAMARINDA — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda bergerak cepat meluruskan rumor yang sempat memicu kehebohan di jagat maya. Pihaknya memastikan tidak ada longsoran baru di lokasi mega proyek Terowongan Jalan Sultan Alimuddin, Kelurahan Sambutan, sebagaimana yang ramai dituduhkan oleh netizen di media sosial.

Untuk memastikan kondisi riil di lapangan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Terowongan Samarinda, Rezky Samudra Aprilyan, mengaku telah turun langsung meninjau lokasi. Dari hasil pengamatan tersebut, ia menegaskan bahwa material yang disangka sebagai longsoran baru itu sebenarnya hanyalah sisa-sisa reruntuhan dari kejadian sebelumnya yang belum sepenuhnya bersih.

"Kalau kita lihat, kayaknya kan ini bukan longsoran baru, ini longsoran yang kemarin juga yang sudah terklarifikasi lah. Mungkin reruntuhan yang timbul itu peruntuhan di permukaan sisa-sisa yang kemarin," ujar Rezky saat dikonfirmasi, Jumat (29/5/2026).

Rezky menjelaskan bahwa titik longsor sejak awal hanya berada di satu lokasi yang sama. Masalahnya, material itu dulunya berasal dari luar batas Right of Entry (ROE) alias lahan proyek yang saat itu belum dibebaskan. Namun sekarang, status lahan tersebut sudah sepenuhnya klir dan masuk dalam area proyek, sehingga tim teknis bisa bergerak jauh lebih leluasa untuk melakukan penanganan.

Meski desain teknis penanganan sudah matang—salah satunya melalui metode regrading atau pemangkasan lereng agar lebih landai—eksekusinya dipastikan belum bisa berjalan dalam waktu dekat. Rezky tidak menampik bahwa keterbatasan anggaran di tengah situasi fiskal saat ini menjadi faktor utama penundaan tersebut, sehingga pengerjaan kemungkinan baru bisa berjalan tahun depan.

"Iya anggaran sih, karena kita masih melihat juga di situasi yang seperti ini kan," ungkapnya secara blak-blakan. Kendati penanganan lereng harus tertunda, masyarakat Samarinda diminta untuk tidak panik. PUPR menjamin kondisi tersebut sama sekali tidak berdampak signifikan terhadap fungsi maupun keamanan struktur terowongan.

Hal ini dikarenakan posisi mulut terowongan berada cukup jauh dari titik longsor dan sudah dilengkapi dengan sistem pengamanan tersendiri. Selain itu, bagian bawah struktur juga telah diberi perkuatan ekstra. Ditambah lagi, rencana pemangkasan lereng nantinya akan mencakup penimbunan tanah sekitar lima meter di atas terowongan, sehingga area tersebut akan menjadi jauh lebih stabil.

Saat ini, fokus utama PUPR adalah mematangkan rencana pengujian struktur terowongan secara menyeluruh. Walaupun kondisi lereng luar tetap masuk dalam indikator penilaian, Rezky menekankan bahwa prioritas utama tim ahli adalah memantau pergerakan di bagian dalam terowongan itu sendiri. "Yang paling penting adalah deformasi di dalam terowongannya itu yang lebih utama. Kalau di dalamnya ada pergerakan, (baru itu krusial)," pungkas Rezky. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Terowongan Samarinda