Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tahan Dulu Proyek Lanjutan Terowongan Sultan Alimuddin, Pemkot Samarinda Pilih Fokus Bayar Utang

Redaksi Prokal • Kamis, 9 Juli 2026 | 06:45 WIB
Secara fisik, pembangunan terowongan telah rampung. (MELI/SAPOS)
Secara fisik, pembangunan terowongan telah rampung. (MELI/SAPOS)

SAMARINDA — Meski konstruksi utamanya telah rampung, terowongan penghubung Jalan Sultan Alimuddin–Jalan Kakap di Samarinda masih belum bisa digunakan oleh masyarakat. Pemerintah Kota Samarinda menegaskan bahwa operasional infrastruktur ini harus menunggu terbitnya Sertifikat Laik Fungsi (SLF) demi menjamin keselamatan publik.

Saat ini, proses pengujian dan commissioning sedang berjalan intensif dengan pendampingan langsung dari Kementerian Pekerjaan Umum. Proses ini melibatkan konsultan independen guna melakukan uji beban serta evaluasi teknis menyeluruh yang ditargetkan rampung pada September mendatang.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, Hendra Kusuma, menegaskan bahwa SLF adalah lampu hijau terakhir yang mutlak diperlukan sebelum terowongan resmi dibuka.

"Yang kami tunggu adalah keluarnya SLF. Proses pengujian dan commissioning dari kementerian masih berjalan. Mudah-mudahan sertifikat itu bisa terbit pada September," ujar Hendra Kusuma pada Rabu kemarin.

Pemerintah daerah menyatakan tidak ingin gegabah dan mengabaikan prosedur baku demi keselamatan warga yang nantinya akan melintasi jalur tersebut. "Masyarakat kami minta bersabar. Pak Wali ingin semuanya sesuai aturan. Kalau dipaksakan dibuka tanpa SLF, risikonya besar apabila terjadi sesuatu. Setelah seluruh hasil pengujian selesai, masyarakat bisa yakin terowongan ini benar-benar layak digunakan," kata Hendra Kusuma menambahkan.

Di tengah penantian sertifikasi tersebut, beredar kabar mengenai kebutuhan anggaran tambahan sebesar Rp90 miliar untuk menyempurnakan kawasan terowongan. Hendra langsung memberikan klarifikasi mengenai spekulasi angka tersebut.

"Angka Rp90 miliar itu bukan angka final dan belum diajukan. Detail pekerjaannya juga masih dikaji. Secara teknis memang ideal jika proyek ini diselesaikan hingga tuntas, tetapi semuanya bergantung pada kemampuan anggaran daerah," jelas Hendra Kusuma.

Dana tambahan tersebut rencananya akan digunakan untuk membenahi kelandaian lereng di sekitar bibir terowongan demi meminimalkan potensi pergerakan tanah. Kendati lereng saat ini dinilai masih cukup curam, Hendra memastikan bahwa struktur utama terowongan itu sendiri sudah kokoh. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Terowongan Samarinda