Di Samarinda Sudah 133 Kebakaran Hingga Juli 2026: Korsleting Listrik dan Kebocoran Gas Elpiji Jadi Pemicu Utama

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 09:30 WIB
Salah satu kebakaran permukiman terjadi di Jalan Cipto Mangunkusumo, RT 04, Kelurahan Gunung Panjang, Kecamatan Samarinda Seberang, pada Kamis (23/7/2026). (kis)
Salah satu kebakaran permukiman terjadi di Jalan Cipto Mangunkusumo, RT 04, Kelurahan Gunung Panjang, Kecamatan Samarinda Seberang, pada Kamis (23/7/2026). (kis)

PROKAL.CO- Ancaman bahaya kebakaran masih membayangi Kota Samarinda sepanjang tahun 2026. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda mencatat sebanyak 133 musibah kebakaran telah melanda Kota Tepian sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Area permukiman warga mendominasi angka kejadian tersebut dengan total 46 kasus.

Berdasarkan data yang terhimpun, indikasi kelistrikan atau korsleting menjadi biang kerok utama dengan 24 kejadian, diikuti oleh kebocoran gas LPG sebanyak 15 kasus.

Kepala Disdamkar Kota Samarinda, Hendra AH, membeberkan bahwa faktor kelalaian serta kurangnya perawatan instalasi listrik rumah tangga menjadi faktor dominan di balik maraknya musibah kebakaran di kawasan permukiman.

"Pemicu dominan masih terjadi di kawasan permukiman warga dan berkaitan dengan masalah kelistrikan. Instalasi listrik yang sudah tua atau penumpukan beban pada steker maupun colokan sering menjadi penyebab munculnya percikan api," ujar Hendra pada Senin (27/7/2026).

Rekapitulasi bulanan Disdamkar mencatat lonjakan kasus tertinggi terjadi pada April 2026 dengan 29 insiden, disusul Mei sebanyak 25 kasus, Januari 20 kasus, Juni 16 kasus, dan hingga akhir Juli ini telah tercatat 14 kejadian.

Selain sektor permukiman, amukan si jago merah juga melalap area perdagangan (13 kasus), lahan atau kebun (12 kasus), kendaraan (5 kasus), serta gudang dan industri (3 kasus). Fasilitas publik seperti sarana pendidikan, perkantoran, hingga hotel masing-masing mencatatkan satu kejadian.

Menyikapi tingginya potensi bencana ini, Hendra mewanti-wanti masyarakat Samarinda untuk lebih tanggap dan teliti terhadap potensi bahaya di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

"Pencegahan kebakaran yang paling efektif dimulai dari rumah sendiri. Kami mengimbau seluruh warga Samarinda rutin memeriksa instalasi listrik, tidak meninggalkan kompor dalam keadaan menyala, serta menyimpan nomor darurat Damkar agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin apabila terjadi kebakaran," imbaunya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kebakaran