SAMARINDA — Masjid perlu mengubah cara pandang dalam melayani umat. Tidak cukup hanya memiliki kotak amal untuk menampung infak dan sedekah, masjid juga perlu memiliki “kotak masalah” untuk menampung berbagai persoalan masyarakat dan bersama-sama mencarikan solusinya.
Gagasan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Samarinda, Drs. H. Nasrun, M.H., dalam rapat bersama Gerakan Safari Subuh Berjamaah Bulanan yang digelar Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Kalimantan Timur di Aula Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim, Jalan Harmonika, Samarinda, Rabu (12/8/2026).
Nasrun mengatakan, keberadaan masjid harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di lingkungan sekitar. Persoalan umat tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan finansial, tetapi juga menyangkut pendidikan, keluarga, ekonomi, anak yatim, hingga persoalan sosial lainnya.
“Kalau selama ini di masjid kita mengenal kotak amal, kenapa tidak kita berpikir tentang kotak masalah? Artinya, ketika masyarakat punya masalah, mereka datang ke masjid dan masjid menjadi bagian dari problem solving,” kata Nasrun.
Menurut dia, gagasan tersebut penting agar aktivitas keagamaan tidak berhenti pada ritual, tetapi diikuti kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Ia mencontohkan masih adanya anak yatim dan keluarga kurang mampu di sekitar masjid yang membutuhkan perhatian, termasuk dalam persoalan pendidikan.
“Jangan sampai kita setiap hari membaca Al-Qur’an dan beribadah, tetapi masih tidak peduli dengan lingkungan kita,” ujarnya.
Nasrun juga mendorong pengelolaan potensi dana masjid agar memberikan manfaat yang lebih luas. Dana yang tersedia, sepanjang dikelola sesuai aturan dan tata kelola yang baik, dapat diarahkan untuk pemberdayaan umat, termasuk membantu masyarakat melalui skema pinjaman tanpa bunga.
Kolaborasi dengan BAZNAS juga dinilai penting agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran. Namun, ia mengingatkan agar pendataan mustahik dan masyarakat yang membutuhkan dilakukan secara akurat. Kesalahan data dapat menimbulkan persoalan, termasuk adanya penerima bantuan yang tercatat lebih dari satu kali.
Selain fungsi sosial, Nasrun menilai masjid perlu lebih adaptif dalam mendekati generasi muda. Cara berdakwah dan kegiatan masjid harus disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan jamaah.
Ia mencontohkan pengembangan ruang interaksi seperti kafe masjid, penyediaan Wi-Fi yang dikelola secara aman, serta bimbingan belajar bahasa Inggris, bahasa Arab dan keterampilan lainnya.
Menurutnya, fasilitas tersebut bukan untuk menggeser fungsi utama masjid, melainkan menjadi sarana pendekatan agar anak-anak dan remaja merasa nyaman datang ke masjid.
“Kalau kita ingin menarik anak-anak ke masjid, mestinya materinya dan caranya juga menggunakan pendekatan anak-anak,” katanya.
Nasrun juga memberikan catatan terhadap rencana Safari Subuh agar tetap menjadi gerakan moral dan dakwah serta tidak ditunggangi kepentingan politik praktis. Kehadiran berbagai organisasi harus ditempatkan sebagai bentuk silaturahmi dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia meminta mubalig yang dilibatkan merupakan penceramah yang meneduhkan, mencerahkan dan mempersatukan. Tradisi serta amaliah masing-masing masjid juga harus dihormati karena rombongan yang datang merupakan tamu.
“Kalau kita di sana tamu, kita harus menghargai amaliah yang ada. Jangan sampai kehadiran kita justru dianggap sebagai gerakan untuk mengubah warna masjid,” ujarnya.
Gagasan tersebut menjadi salah satu materi penting dalam rencana Safari Salat Subuh Berjamaah yang akan digelar rutin satu bulan sekali di masjid-masjid Samarinda. Kegiatan ini digagas PW DMI Kaltim dengan melibatkan berbagai unsur kemasjidan, di antaranya DMI, BKM, BAZNAS dan BKPRMI.
Safari Subuh nantinya tidak hanya diisi salat berjamaah dan kajian, tetapi juga diarahkan pada aksi sosial, seperti bersih-bersih masjid dan kepedulian terhadap masyarakat sekitar.
Ketua Pimpinan Daerah DMI Kota Samarinda, Drs. KH. Azhar Qowim, M.Pd.I., menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai kegiatan yang dilakukan secara rutin dapat menjadi sarana memperkuat syiar sekaligus membangun kepedulian kepada jamaah.
Rapat tersebut dibuka Sekretaris PW DMI Kaltim, Muhammad Idris, M.Pd., dan menjadi bagian dari persiapan penyusunan konsep serta teknis Gerakan Safari Subuh Berjamaah Bulanan di Samarinda.
Melalui gagasan “kotak masalah”, masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat masyarakat beribadah dan bersedekah, tetapi juga menjadi ruang bagi umat untuk menyampaikan persoalan, mendapatkan pendampingan, dan bersama-sama menemukan solusi.
Dengan demikian, masjid diharapkan kembali menjadi pusat kehidupan umat—bukan hanya ramai ketika waktu salat, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan tempat untuk bertanya, belajar, mendapatkan pertolongan, dan menemukan jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi. (fnd)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co