SAMARINDA — Kabut asap akibat kebakaran lahan yang menyelimuti sejumlah titik di Samarinda memicu keprihatinan masyarakat. Namun, di tengah kondisi tersebut, timbul kebingungan publik setelah dua lembaga pemerintah merilis data kualitas udara yang sangat bertolak belakang pada Senin pagi.
Dalam kurun waktu pukul 07.00 hingga 09.00 WITA, alat pemantau milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang terpasang di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto menunjukkan angka 62 yang masuk dalam kategori tidak sehat. Sebaliknya, pada jam yang sama, alat milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda di kawasan Taman Segiri justru mencatat angka 27 dengan kualifikasi udara baik. Perbedaan tajam ini mendatangkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: angka mana yang sebenarnya bisa dipercaya?
Menjawab kesimpangsiuran tersebut, Plt Kepala DLH Samarinda, Suwarso, menjelaskan bahwa perbedaan hasil pengukuran merupakan hal yang wajar karena sangat dipengaruhi oleh lokasi penempatan stasiun pemantau dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Menurutnya, kawasan Bandara APT Pranoto menerima paparan asap langsung dari titik kebakaran lahan di daerah Sungai Bawang dan Pampang, yang terdorong oleh pergerakan arah angin menuju bandara.
Di sisi lain, alat pemantau milik DLH diposisikan di pusat kota, tepatnya di sekitar Taman Segiri dan Taman Makam Pahlawan. Dalam radius sekitar lima kilometer dari titik pemantauan DLH tersebut, tidak terdeteksi adanya kebakaran lahan maupun sebaran asap yang signifikan, sehingga kualitas udara di area itu tetap terjaga baik.
Penjelasan senada disampaikan oleh Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor. Ia menegaskan bahwa alat pemantau kualitas udara bekerja dengan cara menyedot udara di sekitarnya dan hanya memiliki jangkauan pembacaan yang bersifat lokal, yakni sekitar satu hingga tiga kilometer dari titik pemasangan.
Oleh karena itu, angka yang dihasilkan oleh perangkat BMKG di bandara memang murni mencerminkan kondisi udara lokal di area tersebut dan tidak bisa digeneralisasikan sebagai cerminan kualitas udara di seluruh Kota Samarinda. Riza juga menambahkan bahwa data yang terekam sangat sinkron dengan kondisi di lapangan, di mana tebalnya asap kebakaran lahan di sekitar bandara telah menyebabkan jarak pandang berkurang secara nyata.
Pada akhirnya, perbedaan angka antara 62 di Bandara APT Pranoto dan 27 di Taman Segiri tidak menandakan adanya kesalahan fungsi dari salah satu alat. Kedua perangkat tersebut sama-sama merekam data yang akurat sesuai dengan kondisi riil di lokasinya masing-masing pada waktu yang bersamaan. Arah angin, jarak ke sumber kebakaran, serta karakteristik lingkungan sekitar menjadi faktor penentu utama mengapa kualitas udara di area bandara dan pusat kota bisa berbeda jauh. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co