Disdag Samarinda Akan Siapkan Solusi Pasokan Listrik Zona Basa Pasar Pagi

Indra Zakaria • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:50 WIB
Pasar Pagi Samarinda.
Pasar Pagi Samarinda.

SAMARINDA – Persoalan listrik dan akses bagi pedagang zona basah di Pasar Pagi Samarinda masih menjadi pekerjaan rumah Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda. Pasalnya, hingga kini listrik untuk masing-masing lapak belum tersedia, sementara sejumlah lapak di zona basah juga belum terisi pedagang.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengatakan pihaknya masih membahas solusi penyediaan listrik bersama PT PLN dan pihak terkait lainnya. Pembahasan tersebut diperlukan agar pemanfaatan listrik di kawasan pasar dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Secara keseluruhan, belum ada listriknya. Cuma listrik untuk pabrik yang ada. Kalau untuk masing-masing lapak belum,” Ungkap saat ditemui awak media. Kamis (15/10/2026). Menurut Nurrahmani, penyediaan listrik untuk setiap lapak tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Ada sejumlah aspek yang harus diperhitungkan, mulai dari sistem pemasangan, ketentuan yang berlaku, hingga kebutuhan anggaran apabila diperlukan instalasi tambahan, termasuk penggunaan trafo.

Dirinya menjelaskan, pemerintah tidak diperbolehkan menjual listrik kepada pedagang. Karena itu, pihaknya masih mencari mekanisme yang memungkinkan fasilitas listrik yang tersedia dapat dimanfaatkan tanpa melanggar aturan. “Kami mau mencari cara bagaimana memanfaatkan listrik yang ada ini,” Jelas Nurrahmani.

Nurrahmi juga menegaskan, pihaknya mengupayakan agar persoalan tersebut dapat segera diselesaikan. Namun, ia belum dapat memastikan target waktu pemasangan listrik untuk masing-masing lapak karena masih bergantung pada hasil pembahasan lintas pihak dan ketentuan yang harus dipenuhi.

Selain persoalan listrik, usulan pemindahan pedagang zona basah ke area bawah, dekat kantin atau parit, juga menjadi salah satu aspirasi yang telah disampaikan kepada pemerintah kota. Nurrahmani menegaskan, usulan tersebut berasal dari pedagang, bukan inisiatif Dinas Perdagangan. Aspirasi itu telah diteruskan kepada Wali Kota Samarinda, tetapi keputusan mengenai disetujui atau tidaknya pemindahan tersebut masih belum diterima.

“Iya, itu permintaan mereka, bukan saya atau kami yang mewacanakan. Permintaan itu kami sampaikan ke atas. Jawaban iya atau tidaknya belum kami dapatkan,” katanya. Sementara itu, usulan penyediaan eskalator untuk mempermudah akses pengunjung maupun pedagang juga telah diketahui Wali Kota. Namun, realisasinya masih memerlukan kajian lebih lanjut, terutama terkait anggaran, manfaat, dan pertimbangan teknis lainnya.

Ia menyebut setiap aspirasi pedagang tetap didengarkan dan disalurkan melalui mekanisme yang sesuai. Menurutnya, setiap kebijakan harus mempertimbangkan kebutuhan pedagang sekaligus kepatuhan terhadap aturan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.  Di sisi lain, aktivitas perdagangan di zona basah Pasar Pagi masih belum berjalan optimal. Berdasarkan data yang disampaikan dalam wawancara, saat ini baru terdapat empat pedagang ikan, tiga pedagang ayam, dan satu pedagang daging kambing yang berjualan. Sementara itu, lapak pedagang daging sapi masih kosong.

“Sebanyak 126 lapak di zona basah disebut telah dibagikan kepada pedagang. Area tersebut diperuntukkan bagi berbagai jenis komoditas, mulai dari ikan, sayur-mayur, daging, hingga daun sirih dan komoditas sejenis yang dijual per ikat,” ujarnya. Ia mengatakan pihaknya telah meminta agar lapak-lapak yang tersedia segera diisi. Namun, ia memahami adanya pertimbangan dari pedagang yang menilai kondisi saat ini belum sepenuhnya mendukung aktivitas berjualan, termasuk belum tersedianya listrik di masing-masing lapak. “Kami sudah menyampaikan bahwa lapak-lapak itu harus segera diisi,” katanya.  Sebagai alternatif, Disdag juga menawarkan peluang bagi pedagang untuk menjual komoditas lain yang dinilai lebih memungkinkan, seperti kue basah untuk kebutuhan sarapan pagi.

Jenis dagangan yang disarankan merupakan makanan yang dijual untuk dibawa pulang, bukan makanan yang dikonsumsi di tempat. “Sekarang Pasar Pagi mulai beranjak. Tidak terasa, nanti akan menciptakan porsinya sendiri di sana,” pungkasnya. (adv/diskominfo/smd)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Pasar Pagi Samarinda