PM10 Capai 488 µg/m³ di Lokasi Karhutla Sungai Kapih, Rusiah Dewi Ingatkan Masyarakat Bahaya Asap

Indra Zakaria • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 22:25 WIB
Kondisi karhutla di kawasan Kecamatan Sambutan.
Kondisi karhutla di kawasan Kecamatan Sambutan.

SAMARINDA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Paparan partikel halus yang terkandung di dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian UPTD Puskesmas Sungai Kapih setelah melakukan pengukuran kualitas udara di lokasi kebakaran hutan dan lahan, tepatnya di kawasan Jalan Tatako, Gang Pipit, Kelurahan Sungai Kapih, Minggu (1/11/2026).

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pada pukul 08.14 Wita, tercatat konsentrasi partikulat PM2,5 mencapai 67 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dengan kategori tidak sehat. Sementara itu, konsentrasi PM10 tercatat jauh lebih tinggi, yakni 488 µg/m³ dan masuk kategori berbahaya berdasarkan indikator yang ditampilkan dalam hasil pengukuran.

Kepala UPTD Puskesmas Sungai Kapih, Bdn. Rusiah Dewi, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan asap karhutla. Menurutnya, kualitas udara yang tercemar partikel debu dan asap berpotensi mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan.

“Paparan asap karhutla tidak boleh dianggap sepele. Partikel halus yang terkandung di dalamnya dapat masuk ke saluran pernapasan dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada dan melakukan langkah perlindungan diri,” Ungkapnya saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan seluler. Minggu (1/11/2026).
Rusiah menjelaskan, PM2,5 merupakan partikel berukuran sangat kecil, yakni 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Sementara PM10 merupakan partikel berukuran hingga 10 mikrometer yang juga dapat masuk ke sistem pernapasan dan berdampak terhadap kesehatan.

Tingginya konsentrasi PM10 dalam hasil pengukuran tersebut menjadi perhatian tersendiri, mengingat paparan partikulat dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.

“Kami mengimbau masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih tercemar. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel,” Jelas Rusiah.

Selain menggunakan masker, Rusiah menghimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela untuk membatasi masuknya asap ke dalam rumah, serta memperbanyak konsumsi air putih.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran. Pencegahan karhutla dinilai menjadi langkah penting untuk melindungi lingkungan sekaligus menjaga kualitas udara dan kesehatan warga.

“Perlindungan kesehatan tidak hanya dilakukan ketika asap sudah menyebar. Kami mengajak masyarakat bersama-sama mencegah pembakaran lahan dan hutan serta menerapkan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan asap,” Tegas Rusiah.

Melalui pemantauan kualitas udara dan edukasi kesehatan tersebut, UPTD Puskesmas Sungai Kapih berharap masyarakat semakin memahami bahaya polusi akibat karhutla serta mampu mengambil langkah pencegahan secara mandiri.

“Yang paling penting adalah menjaga keselamatan dan kesehatan bersama. Mari kita lebih peduli terhadap kualitas udara di lingkungan sekitar, karena udara yang bersih merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat,” Pungkas Rusiah. (adv/diskominfo/smd)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
karhutla samarinda