PROKAL.CO- Sekitar 2000 tahun yang lalu, keluarga-keluarga di Romawi memiliki tradisi kuliner yang unik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Mereka biasa memanggang sebuah kue khusus yang disebut Libum sebagai persembahan bagi para dewa penjaga rumah, atau yang dikenal sebagai Lares dan Penates. Terbuat dari campuran keju, tepung, dan telur yang kemudian disiram madu, kue ini diletakkan di atas hamparan daun salam di sebuah kuil kecil di dalam rumah, biasanya terletak di dapur atau atrium. Menariknya, ritual ini melibatkan kebersamaan keluarga; setelah para dewa mendapatkan porsinya, sisa kue tersebut akan disantap bersama oleh seluruh anggota keluarga.
Resep autentik Libum ini berhasil bertahan melintasi zaman berkat catatan Marcus Porcius Cato, atau Cato Tua, seorang negarawan dan penulis Romawi abad ke-2 SM. Dalam panduan pertaniannya yang berjudul De Agri Cultura, Cato menuliskan instruksi detail: dua pon keju dihancurkan dalam lesung, dicampur dengan satu pon tepung gandum (atau setengah pon jika ingin tekstur yang lebih lembut), lalu diaduk bersama satu butir telur. Adonan tersebut dibentuk seperti roti, dialasi daun salam, dan dipanggang perlahan di atas tungku panas di bawah periuk tanah liat. Sebagai salah satu resep tertua yang masih bertahan dalam sejarah kuliner Barat, Libum dikenal memiliki cita rasa yang mengejutkan lezatnya bagi lidah modern.
Persembahan ini secara spesifik ditujukan kepada Lares, sang pelindung keluarga, dan Penates, dewa yang menjaga persediaan makanan di gudang. Bagi orang Romawi, keberadaan kuil rumah tangga atau lararia adalah pusat spiritualitas harian di mana kepala keluarga bertindak sebagai imam. Setiap bulan, pada hari-hari suci seperti Kalends, Nones, dan Ides, kuil tersebut dihiasi dengan karangan bunga dan berbagai persembahan seperti dupa, anggur, buah anggur, serta Libum. Ritual ini melambangkan rasa syukur atas kelimpahan pangan yang mereka miliki.
Ritual ini menciptakan momen yang mendalam sekaligus sederhana, di mana sebuah keluarga duduk bersama untuk menyantap hidangan yang sama dengan apa yang mereka persembahkan kepada entitas ilahi. Melalui sepotong kue Libum, tercipta sebuah partisipasi komunal yang bermakna antara manusia dan dewa. Para dewa penjaga gudang makanan tetap tenang karena persediaan dianggap aman, sementara keluarga merasa bahagia karena mereka memiliki kue untuk dinikmati bersama. Tradisi ini menunjukkan bahwa bagi bangsa Romawi, menjaga keharmonisan rumah tangga bisa dimulai dari kehangatan aroma kue yang baru matang dari tungku dapur. (*)
Editor : Indra Zakaria