PROKAL.CO– Kematian Alexander Agung di Babilonia pada Juni 323 SM memicu guncangan hebat yang seketika meruntuhkan kestabilan kekaisaran terbesar di dunia kuno. Di usianya yang baru tiga puluh dua tahun, sang penakluk wafat tanpa meninggalkan ahli waris yang jelas maupun instruksi suksesi yang disepakati. Saat para jenderalnya berkumpul di sekeliling pembaringan terakhirnya dan bertanya siapa yang harus mewarisi takhta, Alexander konon hanya menjawab "kepada yang terkuat"—sebuah pernyataan yang secara tidak langsung menjadi genderang perang bagi para bawahannya.
Di tengah ketidakpastian politik tersebut, perselisihan pertama justru tidak pecah di medan laga, melainkan dalam perebutan hak untuk menguburkan jenazah sang raja. Dalam tradisi Makedonia kuno, prosesi pemakaman bukan sekadar upacara penghormatan, melainkan instrumen politik tingkat tinggi. Siapa pun yang menguasai jenazah Alexander dianggap menguasai narasi legitimasi kekuasaan. Jasad tersebut berubah menjadi objek paling berharga di dunia, sebuah modal simbolis yang akan menentukan siapa penerus sah dari warisan sang penakluk.
Tugas berat membangun kereta jenazah diserahkan kepada Jenderal Arrhidaeus, yang kemudian menciptakan sebuah maha karya berupa kuil berjalan yang megah. Kereta tersebut dilapisi emas, berhiaskan relief kampanye militer Alexander, dan ditarik oleh enam puluh empat bagal dalam barisan lambat yang melintasi wilayah kekaisaran. Pesan dari kemegahan ini sangat jelas: ke mana pun jasad Alexander bergerak, di sanalah pusat kekuasaan berada. Sesuai rencana awal yang disusun oleh wali kekaisaran, Perdiccas, jenazah tersebut seharusnya dibawa pulang ke tanah leluhur di Makedonia untuk memperkuat klaim kesinambungan takhta.
Namun, iring-iringan jenazah yang bergerak ke arah barat melalui Suriah tersebut tidak pernah sampai ke tujuannya. Ptolemy, salah satu jenderal kepercayaan Alexander yang menjabat sebagai penguasa Mesir, melakukan langkah berani dengan mencegat iring-iringan tersebut dan mengalihkan rutenya ke selatan. Tindakan yang dianggap sebagai pencurian oleh pihak Perdiccas ini merupakan langkah jenius Ptolemy untuk mengamankan pengaruhnya. Ia memahami bahwa di dunia yang sedang terpecah tanpa ahli waris sah, kedekatan fisik dengan jasad Alexander adalah satu-satunya bukti legitimasi yang diakui.
Kemarahan Perdiccas berujung pada kampanye militer untuk merebut kembali jenazah tersebut, namun upaya itu berakhir dengan kegagalan fatal bagi dirinya. Sementara itu, Ptolemy berhasil membawa jasad Alexander ke Memphis sebelum akhirnya dipindahkan secara permanen ke jantung kota Alexandria yang baru dibangun. Di sana, di dalam kompleks makam agung bernama Soma, jasad Alexander disemayamkan sebagai situs ziarah sekaligus jangkar kekuatan bagi dinasti yang sedang dibangun Ptolemy. Strategi ini terbukti sangat efektif, menjadikan Alexandria bukan hanya pusat budaya, tetapi juga pusat spiritual yang mengukuhkan posisi Ptolemy di tengah keruntuhan kekaisaran besar tersebut.
Editor : Indra Zakaria