PROKAL.CO- Bagi sebagian besar dunia, Madrid adalah kota sepak bola, tarian flamenco, dan kemegahan Istana Kerajaan Palacio Real. Namun, jika Anda berjalan sedikit ke arah selatan istana, tepat di dekat Katedral Almudena, Anda akan menemukan sebuah taman kecil bernama Parque de Emir Mohamed I. Di sana, berdiri tegak bongkahan dinding batu kuno abu-abu yang seolah menjadi saksi bisu dari sebuah rahasia sejarah besar: Madrid adalah satu-satunya ibu kota di Eropa Barat yang didirikan oleh peradaban Islam.
Jauh sebelum menjadi pusat pemerintahan Spanyol yang modern, kota ini lahir pada abad ke-9, tepatnya sekitar tahun 865 Masehi. Penguasa Muslim dari Kekhalifahan Umayyah di Kordoba, Emir Muhammad I, melihat sebuah bukit strategis di dekat Sungai Manzanares. Di atas bukit itulah ia memerintahkan pembangunan sebuah benteng militer (al-mudayna) dan pemukiman yang diberi nama Mayrit.
"Nama Mayrit itu sendiri merujuk pada air," ujar para ahli sejarah linguistik yang meneliti asal-usul kota ini. Nama tersebut berakar dari istilah Arab Mayra yang berarti saluran air, dikombinasikan dengan akhiran Latin yang berarti tempat. Bangsa Arab yang dikenal jenius dalam bidang hidrologi membangun sistem irigasi bawah tanah yang rumit bernama qanat untuk mengalirkan air bersih di wilayah gersang tersebut. Seiring waktu, pelafalan Mayrit oleh lidah masyarakat lokal perlahan berubah menjadi Magerit, hingga akhirnya kita kenal sebagai Madrid hari ini.
Selama dua abad, Mayrit tumbuh bukan hanya sebagai benteng pertahanan untuk melindungi kota Toledo dari serangan kerajaan Kristen di utara, melainkan juga sebagai peleburan budaya yang damai. Di tempat ini, komunitas Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan, melahirkan arsitektur, ilmu pengetahuan, dan tradisi unik yang mewarnai masa keemasan Al-Andalus.
Geliat sejarah berubah ketika gelombang Reconquista (penaklukan kembali) melanda semenanjung Iberia. Pada tahun 1085 Masehi, Raja Alfonso VI dari Kastila berhasil merebut benteng Mayrit. Kendati kekuasaan politik Islam telah runtuh, peradaban tidak lantas terhapus. Para perajin dan arsitek Muslim yang memilih bertahan—yang kemudian disebut sebagai komunitas Mudejar—tetap dipercaya oleh kerajaan Kristen untuk membangun gedung-gedung kota.
Pengaruh emosional dan visual dari era Muslim ini masih sangat terasa hingga abad ke-21. Gaya arsitektur Mudejar yang menampilkan bata merah berpola geometris rumit dan lengkungan tapal kuda khas Arab dapat dengan mudah ditemukan di menara-menara gereja tertua di Madrid, seperti San Nicolás dan San Pedro el Viejo. Bahkan, nama pelindung kota Madrid, Virgen de la Almudena, diambil dari kata Arab al-mudayna yang berarti benteng kecil.
Baru pada tahun 1561, Raja Philip II secara resmi memindahkan ibu kota kerajaannya ke Madrid, mengubah benteng Muslim kuno ini menjadi jantung dari salah satu kekaisaran terbesar di dunia.
Kini, setiap kali pelancong menyesap kopi di alun-alun Plaza Mayor atau mengagumi kemegahan arsitektur Eropa di Madrid, mereka sebenarnya sedang berjalan di atas tanah yang ribuan tahun lalu dibangun dengan fondasi selawat, harmoni multi-etnis, dan gemercik sistem air bersih bangsa Arab. Madrid bukan sekadar kota Eropa; ia adalah jembatan abadi yang menghubungkan peradaban Barat dan Timur. (*)
Editor : Indra Zakaria