Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Debut Melelahkan Tinkerman

izak-Indra Zakaria • Rabu, 13 Maret 2019 | 12:28 WIB

 ROMA – Winger AS Roma Stephan El Shaarawy langsung merasakan efek kehadiran tactician anyar, Claudio Ranieri. Ya, Ranieri memulai debutnya sebagai allenatore Il Lupi ketika menang 2-1 atas Empoli di Olimpico, Roma kemarin WIB (12/3). El Shaarawy yang mengawali victory itu dengan golnya pada menit kesembilan.

Satu gol Roma lainnya dicetak Patrick Schick saat menit ke-33. Sementara, satu-satunya gol balasan Empoli lewat bunuh diri bek Roma Juan Jesus, berselang tiga menit setelah gol The Little Pharaoh -julukan El Shaarawy. ''Kami memainkan cara main yang baru,'' ucap pemain 26 tahun itu, kepada Sky Sport Italia.

Dari sisi formasi Ranieri memainkan formasi 4-2-3-1. El Shaarawy pun membandingkan formasi yang sama semasa era Eusebio Di Francesco. Selain 4-3-3, Di Francesco juga memakai 4-2-3-1. ''Sama tapi berbeda. Setelah laga saya menghampirinya (Ranieri) dan menanyakan apa yang berbeda dia cuma tertawa,'' ungkap pemain yang sudah merasakan sentuhan tiga tactician berbeda.

Selama di Roma El Shaarawy pernah merasakan era Luciano Spalletti (2016 – 2017), Di Francesco (2017 – 2019) dan sekarang Ranieri. ''Saya tak tahu (bedanya), mungkin sekarang ini kami bermain lebih melebar dan lebih tinggi (garis pertahanan). Itu benar-benar menyusahkan,'' beber winger 23 caps bersama timnas Italia itu.

Diakuinya, gaya bermain lebih menyerang dan cepat seperti ini sudah tak pernah dipakai sejak dua musim. ''Kami harus menerapkannya dalam satu laga. Kami harus tak terlalu banyak-banyak menguasai bola,'' tambahnya. Dalam laga debut Ranieri ini, El Shaarawy pun mendapat kehormatan mengenakan ban kapten setelah Alessandro Florenzi diusir wasit Fabio Maresca, di 10 menit akhir laga.

Kepada Roma TV, Ranieri senang dengan kemenangan yang menandai laga comeback di bench Roma sejak Februari 2011 itu. Apalagi, setelah Schick membayar lunas kepercayaannya. Tanpa Edin Dzeko Ranieri memasang Schick sebagai striker. Tetapi Ranieri belum puas dengan kemenangan ini.

Dia hanya mau Roma tak lagi kebobolan. ''Saya tak habis pikir kenapa kami bisa bobol,'' keluh mantan pelatih yang pernah mengantar Leicester City juara Premier League 2015 – 2016 itu. Dengan kemasukan 37 gol dalam 27 laga, Roma sudah jadi klub dengan jumlah kemasukan terbesar di antara enam besar klasemen Serie A. (ren)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Bola Eropa