TORONTO-Gemuruh Scotiabank Arena, absennya Kevin Durant, terpincang-pincangnya Andre Iguodala, dan 17 turnover yang dibuat Golden State Warriors mewarnai kekalahan Stephen Curry cs di game pertama final NBA kemarin. Warriors takluk 109-118. Itu membuat sang juara bertahan sementara tertinggal 0-1.
Di final wilayah kontra Portland trail Blazer, Warriors tak bermasalah kehilangan Durant yang absen lantaran cedera betis. Mereka tetap menghajar Blazers 4-0. Tapi, di hadapan Raptors ini jauh berbeda. Melihat performa mereka kemarin, tim asuhan Steve Kerr tersebut tampaknya benar-benar butuh suntikan dari MVP Final dua musim terakhir tersebut.
Sebanyak 34 poin Curry, 21 angka Klay Thompson, serta triple double yang dibuat Draymond Green (10 poin, 10 assist, 10 rebound) masih gagal meredam performa Raptors. Tim asuhan Nick Nurse itu bermain apik secara kolektif.
Saat Kyle Lowry melempem dengan hanya membuat tujuh poin, serta Kawhi Leonard kurang greng dengan mencetak 23 poin, Pascal Siakam menggila menutup kebuntuan. Pemain asal Kamerun itu tampil istimewa dengan mengoleksi 32 angka. Marc Gasol, Danny Green, dan Fred VanVleet ikut tampil apik dengan masing-masing membuat 20,11 dan 15 poin.
“Mereka (Warriros) juga manusia,” ucap Leonard dilansir ESPN. “Mereka memang punya tim yang hebat. IQ pertandingan yang tinggi. Tapi kami menantang semua itu dengan tak mengenal rasa takut,” tambah mantan bintang San Antonio Spurs tersebut.
Gemuruh 19.900 fans Raptors yang memedati Scotiabank Arena juga sukses memberikan atmosfer menakutkan untuk Warriors. Mereka terus memberikan dukungan untuk Leonard cs sejak pemanasan sampai laga berakhir.
Jumlah penonton yang hadir ke Arena tersebut membludak. Pertandingan baru digelar pukul sembilan malam waktu setempat. Tapi fans sudah datang ke Scotiabank sejak pukul tujuh pagi. Sebagian di antara mereka bahkan sudah datang sehari sebelumnya sambil bermalam menggunakan tenda. Raptors sampai harus membuat big screen di depan Arena untuk menampung penonton yang tidak kebagian tiket.
Antusiasme masyarakat Toronto tersebut bisa dipahami. Ini adalah penampilan perdana Raptors di final NBA sejak tim tersebut bergabung di liga itu mulai 1995. Laga ini juga tercatat sebagai final NBA perdana yang dilaksanakan di luar Amerka Serikat (AS) sepanjang sejarah. “Dukungan penonton benar-benar luar biasa,” ucap Siakam.
Sejak awal Warriors gagal keluar dari tekanan tuan rumah. Curry cs terus tertinggal sejak akhir kuarter pertama sampai laga usai. Saat Warriors berusaha bangkit, Raptors selalu mampu meredamnya.
Warriors lebih banyak membuat turnover sampai 17 kali. Transisi mereka juga lambat. Raptor bahkan mampu memanfaatkannya untuk membuat 24 fastbreak point. Bukan hanya itu, barisan big man Raptors juga lebih menguasai paint area dengan membuat 40 point in the paint. Warriors hanya mampu membuat 32.
Seandainya ada Durant, Warriors memiliki tambahan tangan dingin yang konsisten mencetak angka di tengah tekanan penonton maupun pemain lawan. Seperti yang dia lakukan saat menghabisi Los Angeles Clippers dengan 50 poin di game keenam ronde pertama.
Tanpa Durant, tembakan-tembakan Warriors kemarin kurang ampuh. Field goal mereka hanya 43% persen. Di lain sisi Raptors mencapai 50%.
Durant sendiri ikut terbang ke Toronto. Tapi belum ada kepastian apakah dia sanggup bermain di game kedua yang berlangsung Senin besok. “Target kami adalah mencuri satu kemenangan di sini (Toronto). Aku rasa kami masih memiliki kesempatan itu,” ucap Thompson. (irr)
Editor : izak-Indra Zakaria