Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Lolos Jerat Degradasi dan Lilitan Utang

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 29 Februari 2020 - 15:44 WIB
Pemain Kalteng Putra saat mengikuti Liga 1, musim lalu.
Pemain Kalteng Putra saat mengikuti Liga 1, musim lalu.

Kerasnya persaingan di Liga 1 seringkali membuat tim promosi kesulitan bersaing. Musim lalu jadi bukti. Dua tim promosi, Kalteng Putra dan Semen Padang, terdegradasi. Sudah begitu, keduanya terbelit masalah tunggakan gaji. Lantas bagaimana nasib tim promosi musim ini?

 

--------

Ketika kompetisi belum dimulai, kengerian itu sudah terbayang di benak manajemen Persiraja Banda Aceh. Mereka bukan saja harus melewati tantangan persaingan ketat dan keras dengan 17 kontestan Liga 1, tapi juga dihadapkan pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berkompetisi. Sebab, posisi Persiraja berada di ujung paling barat negeri ini.

Tak heran, Persiraja pun sempat menjadi tim paling vokal ketika rapat umum pemegang saham (RUPS). Juga saat manager meeting yang digelar PT Liga Indonesia Baru (LIB). Manajamen kesebelasan berjuluk Laskar Rencong itu begitu berisik soal subsidi dan jadwal kompetisi.

Subsidi misalnya. Meski bersama Persipura Jayapura, mereka mendapat tambahan Rp 500 juta, sehingga total subsidi mencapai Rp 5,7 miliar, mereka tetap merasa kurang. Tambahan itu disebut Presiden Persiraja Nazaruddin Dekgam tidak cukup untuk mengakomodir kebutuhan tim.

Dia memperhitungkan, untuk sekali tandang saja ke Jakarta, satu pemain menelan biaya Rp 5 juta. ’’Itu belum satu tim,’’ katanya. Itu juga belum dikalikan 17 away sepanjang musim. ’’Tentu saya tidak puas dengan jumlah subsidi itu. Tapi mau bagaimana lagi,’’ ungkapnya.

Persiraja tentu tak mau pasrah dengan keadaan. Mereka tidak ingin kisah yang menimpa Semen Padang dan Kalteng Putra terjadi pada Persiraja. Musim lalu, keduanya langsung terdegradasi setelah promosi. Tak hanya itu, Semen Padang dan Kalteng Putra juga menunggak gaji pemainnya.

Gara-gara masalah tunggakan gaji itu, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) turun tangan. Mereka bersurat ke Kalteng Putra agar segera melunasi kewajibannya. ’’Kalteng Putra sudah memberikan surat balasan, tetapi tidak sesuai dengan regulasi yang ada. Kami pun akhirnya bersurat kembali agar Kalteng Putra bisa menyelesaikan tunggakan gaji pemainnya,’’ ujar General Manager APPI Ponaryo Astaman

Tiga tim promosi musim ini, Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persiraja, pun belajar banyak dari pengalaman Semen Padang dan Kalteng Putra tersebut. Persik misalnya. Macan Putih -julukan Persik- menegaskan tak ingin sekadar numpang lewat.

”Kami menargetkan menembus sepuluh besar,” tegas CEO Persik Abdul Hakim Bafagih. Persik pun serius mempersiapkan diri. Ketika banyak kontestan Liga 1 belum memulai latihan, mereka sudah menggelar latihan. Persik mencoba membangun chemistry pemain lebih dini. Sebab, tim asal Kota Tahu tersebut percaya, dengan kebersamaan, mereka bisa memenuhi target yang dicanangkan. Sekali pun di dalam skuad Persik tak ada nama bintang.

”Kami tidak mau silau dengan nama besar pemain. Kami memilih pemain yang mau bekerja keras,” kata Manajer Persik Beny Kurniawan. Langkah itu sekaligus sebagai bentuk efisiensi dalam pengeluaran. Persik tak mau jor-joran membeli pemain yang itu bisa membebani anggaran tim.

Persiraja pun tak kalah seriusnya. Agar tak sekadar numpang lewat, mereka bergegas menambah kekuatan tim. Miftahul Hamdi yang musim lalu bermain di Bali United dan asli produk lokal Aceh dipulangkan. Juga ada nama andalan Barito Putera Naazarul Fahmi direkrut.

Persiraja juga sangat seleksi merekrut pemain asing. Mereka tak mau membeli pemain layaknya membeli kucing dalam karung. Empat pemain asing yang dikontrak semuanya melalui proses seleksi. Tidak sekadar dilihat videonya semata. ”Dengan komposisi yang ada, kami optimis bisa menembus sepuluh besar,” sebut Sekretaris Persiraja Rahmat Djailani.

Sama dengan Persik dan Persiraja, Persita pun mematok target menembus 10 besar. ’’Kami optimis memulai kiprah musim ini. Semoga dengan sinergi antara semua pihak, hal ini bisa terwujud,” ujar Presiden Persita Ahmde Rully Zulfikar.

Optimisme yang tak berlebihan. Pendekar Cisadane -julukan Persita- musim ini mendatangkan banyak sekali pemain berkualitas. Sebut saja seperti Hamka Hamzah dan Samsul Arif. Pemain terbaik Liga 2 musim lalu, Taufiq Febrianto pun mereka rekrut.

Tak hanya memperkuat skuad di lapangan, Persita juga menopangnya dengan kekuatan finasial. Selain mengandalkan pendapatan dari tiket, mereka juga membuat jersey yang laku dijual. Jersey pun dibuat self apparel agar keuntungan bisa maksimal. Di sisi lain, banyak sponsor yang digaet.’’Ya kami ingin kerja sama dengan pengusaha setempat agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar,’’ kata Manajer Persita Nyoman Suryanthara. (rid/fim)

Editor : izak-Indra Zakaria
#bola nasional