Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sekali Lagi, Al-Khelaifi!

izak-Indra Zakaria • 2020-08-20 12:33:50
Juan Bernat
Juan Bernat

LISBON– ’’Mungkin tahun depan kami mencapainya (final Liga Champions),’’ kata Managing Director Paris Saint-Germain (PSG) Asia Pasifik Sebastien Wasels, kepada Jawa Pos

soal kans klubnya di Eropa, dalam sebuah acara di Jakarta, tahun lalu. Mungkin itu jawaban guyonan atau diplomatis dari klub yang sulit tembus semifinal bahkan ke final Liga Champions.

Tapi kemarin WIB (19/8) ucapan Wasels benar-benar kesampaian. PSG akhirnya mampu merasakan final Liga Champions untuk kali pertama dalam sejarahnya. Thiago Silva dkk sukses melibas RB Leipzig tiga gol tanpa balas pada semifinal di Da Luz, Lisbon. Gol-gol Marquinhos, Angel Di Maria, dan Juan Bernat yang mengantarkan histori bagi Les Parisien, julukan PSG.

’’Itu yang diinginkan Mr President (Nasser Al-Khelaifi). Hampir setiap musim dia selalu mengatakannya kepada kami, kepada tim, kepada pelatih, dan kepada pemain,’’sambung Wasels. Benar. Al-Khelaifi memang selalu memimpikannya sejak kali pertama dia bersama konsorsium yang dipimpinnya, Qatar Sports Investment (QSI), 2011 silam, membeli PSG.

Bahkan, empat tahun lalu pengusaha Qatar tersebut mengultimatum PSG agar bisa lebih banyak berbicara di Liga Champions. Sampai akhirnya terjadilah megatransfer Neymar berharga EUR 222 juta (Rp 3,9 triliun) pada musim panas 2017 dari FC Barcelona, yang kemudian disusul pembelian Kylian Mbappe dari AS Monaco senilai EUR 145 juta (Rp 2,55 triliun).

Tujuannya satu, melepaskan diri dari kutukan mentok hanya sampai perempat final yang kerap jadi ending PSG saat turun di Liga Champions. Meski, uang besar itu hanya terbayar dua musim beruntun finis di 16 Besar. Termasuk setelah guyonan Wasels, tahun lalu. Karenanya, ini jadi penantian panjang sembilan tahun Al-Khelaifi.

Penantian setelah dia menggelontorkan uang senilai EUR 1,268 miliar (Rp 22,3 triliun) di 18 periode transfer pemain. Harga yang sama besarnya dengan panjangnya penantian PSG untuk bisa mencapai semifinal Liga Champions. Catat, PSG baru mencapai final Liga Champions atau European Cup setelah menjalani 110 laga.

Panjangnya jalan PSG menuju final itu mengalahkan upaya Arsenal untuk mencapai final 2006 silam. The Gunners, julukan Arsenal, ketika itu harus menempuh 90 laga dalam 25 tahun di turnamen level teratas Eropa untuk sampai di final. Spesialnya, bagi PSG, mereka lolos ke final tepat pada bulan mereka merayakan hari jadi ke-50, 12 Agustus lalu.

’’Aku bangga malam ini (kemarin, Red). Sangat bangga dengan pemainku. Ini mimpi dan aku berharap mimpi ini bakal terus berlanjut,’’ koar Al-Khelaifi, kepada RMC Sport. Di stadion yang sama, Da Luz, PSG akan menunggu calon lawan dari semifinal Bayern Muenchen melawan Olympique Lyon dini hari tadi WIB, pada akhir pekan nanti (24/8).

Pengusaha berusia 46 tahun itu ingin menjadikan QSI sebagai konsorsium Timur Tengah pertama yang mampu membawa klubnya mengangkat Si Kuping Lebar, sebutan trofi juara Liga Champions. ’’Aku bilang ke pemain, mereka sudah memainkan permainan yang hebat. Tapi, tak cuma sampai di sini laju kami. Trofi itu layak jadi milik kami dan kami ingin memberi segalanya malam itu (final, Red),’’ sambung Al-Khelaifi.

Setali tiga uang dengan sang Presiden. Mbappe pun juga ingin melengkapi suksesnya saat membela timnas Prancis dalam Piala Dunia 2018 dengan ketika membawa PSG merasakan final Liga Champions musim ini. ’’Aku dapat merasakan getaran yang sama seperti ketika aku berada di final Piala Dunia (2018),’’ ungkap Mbappe, dilansir laman resmi UEFA.

Jalan Mbappe dan PSG bisa sampai ke final memang mirip dengan jalan Mbappe dan Les Bleus, julukan timnas Prancis, dua tahun lalu. Tiga hari sebelum semifinal Piala Dunia 2018, dia mengalami cedera punggung. Tapi dia meminta staf pelatih timnas Prancis merahasiakannya dan tetap bermain kontra Belgia. Di final menghadapi Kroasia, dia menyumbang satu dari empat gol kemenangan 4-2 Prancis.

Dua pekan sebelum terbang ke Lisbon, cedera engkel kanan menghampiri Mbappe ketika PSG mengalahkan AS Saint-Etienne dalam final Coupe de France (24/7). Donatello, julukannya, absen di final Coupe de la Ligue kontra calon finalis Liga Champions musim ini, Lyon, sepekan setelahnya.

’’Aku pikir malam itu semua sudah berakhir, aku menangis semalaman. Tetapi, keesokan harinya aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan melakukan segalanya yang aku mampu dan aku akan menjaga diriku sendiri,’’ kisahnya. Mbappe tak mencetak gol dalam perempat final dan semifinal, persis seperti di Piala Dunia lalu.

Lalu, apakah dia bisa menandai final pertamanya di Liga Champions ini sama dengan di final pertamanya di Piala Dunia dengan gol? ’’Aku tak merasakan kesakitan lagi. Aku siap untuk melakukan apapun pada Minggu nanti agar kami bisa memenanginya (Liga Champions),’’ sebut Mbappe. (ren)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Bola Eropa