Jalan karier Edouard Mendy di Chelsea awalnya seperti Petr Cech. Sama-sama datang dari Stade Rennais dan langsung meraih trofi juara bergengsi dalam musim pertama menjadi kiper utama Chelsea. Kalau Cech mengangkat trofi Premier League, Mendy malah Si Kuping Lebar (Liga Champions).
Seiring waktu, yang membedakan karier Mendy dan Cech di Chelsea adalah durasi. Cech bertahan lebih dari sedekade (11 musim) dan selalu menjadi nomor satu, sedangkan Mendy hanya tiga musim.
Khusus musim terakhir Mendy alias musim lalu (2022–2023), kiper timnas Senegal kelahiran Prancis tersebut malah tergusur sebagai cadangan Kepa Arrizabalaga.
Kemarin (29/6) WIB Mendy mengikuti jejak N’Golo Kante, Kalidou Koulibaly, dan Hakim Ziyech yang memilih pergi dari Chelsea menuju ke Saudi Pro League.
Kiper berusia 31 tahun itu bergabung ke Al Ahli Saudi FC dengan fee GBP 16 juta (Rp 303,4 miliar).
”Yang sulit bagiku ketika akan memulai lembaran baru dalam hidup adalah mengucapkan kata selamat tinggal,” unggah Mendy di Instagram.
Dalam kata-kata perpisahannya, Mendy sama sekali tidak menyebut nama Todd Boehly, pemilik Chelsea saat ini. Dia memilih menyebut Roman Abramovich, pemilik Chelsea sebelum Boehly. Tidak ketinggalan ucapan untuk Cech, Marina Granovskaia (eks direktur Chelsea yang meresmikan perekrutannya), serta pelatih kiper Christophe Lollichon.
”Terima kasih atas pelajaran yang tidak ternilai dan pengalaman selama ini,” ucap penjaga gawang berpostur 194 sentimeter tersebut.
Kepergian Mendy seperti ironi mengingat pada Januari tahun lalu dia adalah penerima penghargaan kiper terbaik dunia FIFA (The Best FIFA Men’s Goalkeeper) 2021. Sebulan berselang, Mendy tampil gemilang membawa Senegal juara Piala Afrika.
Hanya, ironi memang kata yang familier dalam perjalanan karier Mendy. Jika ditarik ke belakang atau sembilan tahun lalu, Mendy pernah berpikir pensiun dini. Tepatnya ketika dia tidak punya klub selama musim 2014–2015 atau setelah kontrak di klub profesional pertamanya, klub kasta ketiga Prancis AS Cherbourg, tidak berlanjut setelah tiga musim.
Mendy pun mengisi hari-harinya dengan menerima tawaran bekerja sebagai penjaga toko baju. Sampai akhirnya, dia dihubungi pelatih kiper Olympique de Marseille (OM) Dominique Bernatowicz yang sedang mencari kiper cadangan. Bernatowicz pun terkesan ketika kali pertama melihat Mendy dalam sesi latihan.
”Sejak hari pertama latihan, aku sudah melihat seorang kiper (bintang),” ucap Bernatowicz kepada The Guardian.
Bernatowicz yang tidak ingin talenta Mendy terpendam kalau hanya menjadi cadangan di OM kemudian mengirimnya ke klub Ligue 2 Stade de Reims supaya bisa tampil reguler. Keberuntungan juga menaungi Mendy ketika kiper Reims Johann Carrasso menerima kartu merah dalam laga pertama musim 2016–2017.
Sejak saat itulah, sinar terang karier Mendy menyala. Kesuksesan pertamanya adalah membantu Reims memenangi Ligue 2 2017–2018. Di sisi lain, kepergian Mendy ke Arab Saudi dianggap pandit sekaligus mantan kapten Manchester United Roy Keane sebagai konsekuensi atas penampilan yang terus menurun. Dalam pandangan Keane, performa terbaik Mendy sudah lewat.
”Bahkan, aku pikir dia merupakan simpul lemah mereka (Chelsea, Red) musim lalu,” tutur Keane kepada ITV. ”Dia sudah tidak sehebat musim-musim sebelumnya,” imbuhnya. (*)