PROKAL.CO – Kedigdayaan para petarung asal Dagestan, Rusia, di panggung UFC selalu identik dengan disiplin ekstrem, kemampuan gulat yang dominan, serta penampilan fisik yang khas dengan rambut potongan cepak. Di balik keseragaman gaya rambut tersebut, juara dunia kelas ringan UFC, Islam Makhachev, baru-baru ini membagikan sebuah kisah sarat makna mengenai aturan ketat dari mendiang pelatih legendaris mereka, Abdulmanap Nurmagomedov.
Bagi mendiang ayah dari Khabib Nurmagomedov tersebut, setiap detail kecil dalam kehidupan seorang atlet—termasuk urusan panjang rambut—bukanlah sekadar masalah estetika atau penampilan luar. Setiap aturan yang diterapkan selalu memiliki landasan taktis dan filosofi bertarung yang mendalam.
Alasan Taktis: Rambut Panjang Adalah Musuh di Dalam Oktagon
Makhachev mengenang bagaimana sang mentor selalu menegur dengan keras jika melihat ada anak asuhnya yang mulai membiarkan rambut mereka tumbuh panjang. Menurut Abdulmanap, dalam dunia seni bela diri campuran (MMA) di mana setiap detik dan jarak pandang sangat menentukan hidup-mati seorang petarung, rambut panjang adalah sebuah kerugian taktis yang konyol.
"Pelatih kami, Abdulmanap Nurmagomedov, sangat tidak suka rambut panjang. Beliau selalu berkata, 'Kalau rambutmu panjang, keringatmu akan mengalir ke matamu dan menghalangi penglihatanmu,'" ungkap Islam Makhachev menirukan ucapan sang guru.
Dalam situasi pertarungan bawah (ground fighting) yang menguras energi, tetesan keringat yang tertahan oleh rambut dan masuk ke kornea mata bisa menjadi celah fatal yang dimanfaatkan oleh musuh untuk melepaskan kuncian atau pukulan telak.
Filosofi Dagestan: Datang untuk Bertarung, Bukan untuk Cari Pujian
Selain alasan yang murni teknis di atas kanvas oktagon, Abdulmanap juga menanamkan mentalitas budi pekerti dan kesederhanaan yang kuat kepada seluruh muridnya. Ia tidak ingin para pemuda Dagestan yang dididiknya terjebak dalam kesombongan atau terlalu sibuk memikirkan citra diri di depan kamera media.
Makhachev menambahkan bahwa sang pelatih selalu mengingatkan mereka tentang tujuan utama menjadi seorang petarung sejati melalui sebuah kalimat sindiran yang ikonik. "Dengan potongan rambut seperti itu (panjang), kamu tidak akan membuat seseorang menyukaimu," kenang Makhachev sambil tersenyum mengingat ketegasan sang pelatih.
Pesan mendalam itu menegaskan bahwa seorang petarung dinilai dari prestasi, kerja keras, dan ketangguhan mentalnya di dalam arena, bukan dari seberapa modis penampilan fisiknya. Warisan disiplin mutlak inilah yang pada akhirnya berhasil membentuk Islam Makhachev dan Khabib Nurmagomedov menjadi petarung tangguh yang mendominasi puncak tertinggi dunia MMA hingga hari ini. (*)
Editor : Indra Zakaria