Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Justin Gaethje Hancurkan Prediksi, Bikin Bonyok Ilia dan Rebut Sabuk Juara Kelas Ringan di UFC Freedom 250

Redaksi Prokal • Senin, 15 Juni 2026 | 16:47 WIB
Justin menghajar Ilia.
Justin menghajar Ilia.

 
PROKAL.CO- Sebuah keajaiban besar baru saja tercipta dalam sejarah MMA tepat di halaman selatan Gedung Putih, Washington. Justin Gaethje, petarung veteran asal Amerika Serikat yang sama sekali tidak diunggulkan, berhasil membalikkan semua prediksi miring dengan menumbangkan Ilia Topuria secara tragis. Dalam laga utama bertajuk UFC Freedom 250 yang digelar untuk memperingati ulang tahun perak Amerika Serikat, Gaethje sukses merebut sabuk juara kelas ringan setelah kubu Topuria menyerah di awal ronde kelima.

Kemenangan ini menjadi salah satu kejutan paling masif dalam sejarah UFC. Datang sebagai underdog yang tidak diperhitungkan dengan rasio taruhan lebih dari 6 banding 1, petarung berusia 37 tahun itu awalnya dianggap hanya akan menjadi mangsa empuk bagi Topuria. Apalagi, fisik Gaethje dinilai sudah habis setelah melewati berbagai laga berdarah sepanjang kariernya. Namun, malam itu ia membuktikan bahwa semangat juangnya belum padam. "Hei, saya berasal dari Amerika. Dua ratus lima puluh tahun yang lalu, posisi kita jauh lebih tidak diunggulkan daripada rasio 6 banding 1, dan lihat betapa makmurnya kita sekarang!" teriak Gaethje dengan penuh emosi merayakan kemenangannya.

Wajah Ilia bonyok dalam pertarungan dengan Justin Gaethje.
Wajah Ilia bonyok dalam pertarungan dengan Justin Gaethje.

"Saya tahu ini benar-benar legendaris, karena saya sendiri bahkan hampir tidak bisa mempercayainya. Wow!" tambahnya sembari tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia lakukan. Pertarungan sebenarnya berjalan sangat sengit dan penuh drama sejak awal laga. Gaethje langsung tampil menggebrak di ronde pertama dengan kombinasi jab keras dan uppercut yang membuat wajah Topuria mulai mengucurkan darah. Meski begitu, sang juara bertahan sempat membalas dengan sangat brutal di ronde kedua. Topuria berhasil menjatuhkan Gaethje lewat serangan bertubi-tubi ke arah ulu hati yang nyaris mengakhiri pertempuran. Beruntung bagi Gaethje, Topuria memilih untuk melanjutkan duel di lantai demi mengincar kuncian yang gagal, sehingga memberikan waktu bagi sang penantang untuk pulih.

Memasuki ronde ketiga, Gaethje bangkit seperti monster yang terlahir kembali setelah sempat bersantai sejenak di sudut ring. Ia langsung merobohkan Topuria lewat kombinasi pukulan yang sangat telak. Sejak momen itu, kendali permainan sepenuhnya berada di tangan Gaethje. Di akhir ronde keempat, wajah Topuria sudah bersimbah darah dan membengkak parah akibat terjangan tangan kanan, uppercut, serta serangan lutut yang dilepaskan Gaethje tanpa ampun.

Melihat kondisi petarungnya yang sudah tidak karuan, tim pelatih Topuria akhirnya memutuskan untuk melempar handuk dan menghentikan pertandingan sesaat sebelum ronde kelima dimulai. Gaethje pun mengakui betapa beratnya perjuangan yang harus ia lewati di dalam oktagon malam itu.

"Saya harus membalasnya, karena dia sempat menghajar ulu hati saya dengan sangat telak," ujar Gaethje menjelaskan keputusannya untuk terus menekan.

"Saya tahu saya harus bisa melewati ronde pertama. Kemampuannya memang tidak tertandingi saat kami berdua masih segar, tetapi daya tahan, kegigihan, dan mental saya yang membawa saya melewati beberapa ronde awal itu. Tidak ada yang bisa mengalahkan kerja keras saya di ronde ketiga, terutama di ronde-ronde perebutan juara," tegasnya.

Menariknya, mentalitas pemenang Gaethje justru muncul dari rasa takut yang ia kelola dengan sangat baik sebelum laga dimulai. Strategi psikologis itu terbukti ampuh membawanya mencetak sejarah baru di akhir kariernya yang gemilang.

"Saya sempat mengatakan pada diri sendiri bahwa saya akan kalah. Saya katakan pada diri sendiri bahwa saya akan dipermalukan, sehingga saya bisa masuk ke tempat paling prima dan menggali potensi terdalam saya. Dan saya memang harus melakukannya—pria itu benar-benar membuat saya dalam masalah. Dia sempat mengguncang saya, mengenai dagu saya, menghancurkan ulu hati saya, tetapi saya tetap bertahan di sana," pungkas Gaethje. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Justin Gaethje #ilia topuria