PROKAL.CO- Ambisi Alex Pereira untuk mengukir sejarah emas sebagai petarung pertama yang menjuarai tiga divisi berbeda di UFC resmi kandas. Tampil dalam laga debutnya di kelas berat pada ajang UFC Freedom 250 yang digelar di halaman Gedung Putih, petarung asal Brasil itu harus mengakui ketangguhan Ciryl Gane. Gane sukses menjadi perusak mimpi setelah menghujani Pereira dengan pukulan brutal yang memaksa wasit Herb Dean menghentikan pertandingan demi keselamatan Pereira pada menit 1:27 di ronde kelima.
Pertarungan sebenarnya dibuka dengan tempo yang cukup berimbang dan penuh teknik tinggi pada ronde pertama. Pereira bahkan sempat menyengat Gane tepat saat bel berbunyi, meski belum ada kerusakan berarti yang diderita oleh kedua petarung. Namun, situasi berubah drastis memasuki ronde kedua saat Gane berhasil menjatuhkan Pereira dan menghajarnya tanpa ampun. Pereira yang sempat limbung antara sadar dan tidak, secara luar biasa mampu bertahan dengan meraih kaki Gane untuk bangkit berdiri.
Memasuki ronde-ronde akhir, kondisi fisik Pereira semakin mengenaskan dengan luka robek besar di bawah mata kanannya dan tampak sangat kehabisan napas. Gane terus mendominasi jalannya laga, menyayat pertahanan Pereira dengan kombinasi pukulan besar dan sikutan jarak pendek saat situasi clinch. Setelah rentetan pukulan keras terus bersarang telak di kepala Pereira tanpa ada perlawanan berarti, wasit akhirnya memutuskan bahwa laga sudah tidak bisa dilanjutkan.
Kemenangan impresif ini mengantarkan Gane merengkuh sabuk juara interim kelas berat untuk kedua kalinya dalam karier dan membuka jalan untuk duel ulang melawan Tom Aspinall. Pertemuan pertama mereka pada Oktober lalu harus berakhir tanpa pemenang (no contest) akibat colokan mata, sebuah insiden yang membuat Aspinall cedera dan belum bisa bertarung hingga saat ini.
Di sisi lain, hasil minor ini menjadi tamparan keras bagi Pereira yang kini telah menelan dua kekalahan dari tiga laga terakhirnya. Kegagalannya di Washington membuktikan bahwa menaklukkan divisi berat UFC bukanlah perkara mudah, bahkan bagi seorang mantan penguasa kelas menengah dan kelas berat ringan sepertinya. (*)
Editor : Indra Zakaria