PHILADELPHIA — Memasuki fase akhir kariernya yang gemilang, raja kelas welterweight sekaligus petarung nomor satu pound-for-pound (P4P) dunia, Islam Makhachev, melemparkan pengakuan mengejutkan. Petarung asal Dagestan berusia 34 tahun itu menyatakan bahwa waktunya di panggung UFC sudah tidak banyak lagi.
Pernyataan tersebut diungkapkan Makhachev saat bersiap melakoni pertahanan gelar pertamanya melawan bintang muda Irlandia, Ian Machado Garry, pada ajang UFC 330 di Xfinity Mobile Arena, Philadelphia, Minggu pagi. Sejak melakoni debutnya pada tahun 2015, Makhachev telah mengukir rekor fantastis dengan mengantongi 17 kemenangan dari 18 pertarungan. Kemenangan atas Garry tidak hanya akan mempertahankan takhtanya, tetapi juga resmi memecahkan rekor abadi Anderson Silva dengan 17 kemenangan beruntun di UFC—catatan rekor yang telah bertahan selama 13 tahun.
Setelah memutuskan naik kelas usai mencetak rekor empat kali pertahanan gelar di kelas lightweight, Makhachev kini justru ingin bertarung lebih sering sebelum benar-benar menggantung sarung petarungnya.
"Saya bukan petarung muda lagi. Sekarang lebih baik bagi saya untuk bertarung setiap tiga atau empat bulan sekali," ungkap Makhachev dalam wawancaranya bersama legenda UFC, Demetrious Johnson. "Saya sadar usia saya bukan 28 tahun lagi; sekarang saya sudah 34 tahun. Dan jujur saja, waktu saya di UFC sudah tidak banyak lagi. Tapi terkadang di UFC, tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Kita ingin bertarung tiga atau empat bulan sekali, tapi jadwal tidak selalu sesuai harapan."
Melampaui Bayang-Bayang Khabib Nurmagomedov
Jelang pertarungan akhir pekan ini, perdebatan hangat merebak di kalangan pengamat MMA mengenai apakah pencapaian Makhachev telah melampaui rekor mentor sekaligus pelatihnya, Khabib Nurmagomedov.
Khabib pensiun pada tahun 2020 dengan rekor sempurna 29-0 berkat gaya wrestling brutal yang tak terhentikan. Makhachev memang tidak se-agresif Khabib di atas kanvas, namun ia dinilai memiliki teknik striking yang jauh lebih matang dan komplet.
Terlebih lagi, kemenangan Makhachev atas Jack Della Maddalena tahun lalu untuk merengkuh sabuk juara dua divisi (two-division champion) berhasil melengkapi impian besar yang bahkan belum pernah dicapai oleh Khabib. Presiden UFC Dana White pun tak ragu menyebut bahwa Makhachev kini "berada di jalur yang sangat tepat" untuk dinobatkan sebagai petarung terhebat sepanjang masa (GOAT).
Ian Garry dan Misi Mengukir Sejarah Irlandia
Di seberang oktagon, Ian Machado Garry (17-1 MMA, 10-1 UFC) datang dengan ambisi merusak pesta sang juara. Petarung berusia 28 tahun itu berpeluang menjadi juara dunia asal Irlandia pertama di UFC sejak era Conor McGregor, sekaligus melampaui rekor McGregor sebagai petarung Irlandia dengan jumlah kemenangan terbanyak dalam sejarah promosi.
Meski Makhachev kerap meremehkan kemampuannya sepanjang pekan pertarungan, Garry menegaskan bahwa ia siap menghadapi ujian terbesar dalam hidupnya demi sebuah warisan sejarah.
"Saya memiliki rasa hormat dan kekaguman yang begitu besar untuk Islam Makhachev atas semua karya yang telah ia ukir di UFC. Tidak ada pertarungan lain yang lebih saya inginkan untuk membuktikan bahwa saya adalah yang terbaik di dunia," ujar Machado Garry optimistis.
"Saya berkesempatan bertarung melawan petarung kelas ringan terhebat sepanjang masa, seorang juara dunia dua divisi, dan petarung nomor satu di planet ini. Itulah mengapa pertarungan ini sangat menarik. Pertarungan ini adalah tentang sejarah. Pertarungan ini adalah tentang legacy."(*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co