Penuturan masyarakat setempat, dari seratus persen anak-anak Tanjung Lokang yang menamatkan SD, hanya lima puluh persen melanjutkan ke jenjang menengah pertama. Sedangkan lima puluh persennya lagi tak dilepas orang tua untuk melanjutkan sekolah ke Putussibau. Alasan orang tua rerata sama. Takut melepaskan anak di bawah umur untuk melanjutkan pendidikan di kota. Alhasil, merekapun terhenti pendidikannya.
Malam penyambutan tim ekspedisi budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar kembali mendengar fakta tersebut. Kepala Desa Tanjung Lokang Martinus menuturkan bahwa anak-anak Tanjung Lokang ingin sekolah setinggi-tingginya. Mereka memiliki cita-cita tinggi. Namun karena aspek kemampun perekonomian masyarakat dan beberapa faktor lainnya, membuat langkah anak Tanjung Lokang terhenti sampai di pendidikan dasar. “Di sini hanya ada SD, untuk melanjutkan SMP harus ke Putussibau. Disana mereka mesti kos atau tinggal di asrama. Lantas bagaimana kami (orang tua) mau mengontrol anak-anak kami disana,” ungkapnya.
Hadirnya Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar beserta tim ke sini harapannya bisa menjadi jembatan agar ke depan Desa Tanjung Lokang bisa memiliki SMP. Kalaupun tidak memiliki gedung, bisa dibuatkan sekolah satu atap. Sehingga anak-anak SD yang lulus bisa melanjutkan jenjang menengah pertama di Desa Tanjung Lokang. Tidak lagi bersusah payah ke Putussibau. “Kami tidak ingin ada anak putus sekolah di sini,” ungkapnya.
“Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar kewenangannya adalah SMA/SMK. Kalau SD dan SMP ada di Kabupaten Kota. Namun persoalan ketiadaan SMP di Tanjung Lokang akan saya komunikasikan dan koordinasikan pada Kabupaten Kapuas Hulu. Semestinya ini bisa diwujudkan,” ujar Rita.
Memang syarat untuk mendirikan SMP mesti ada tiga SD. Namun jika harus menunggu tiga SD di Tanjung Lokang mau sampai kapan kondisi ini terus terjadi. Akan banyak anak Tanjung Lokang tak melanjutkan ke menengah pertama. Mesti ada strategi dan upaya agar Tanjung Lokang bisa memiliki SMP. Minimal bisa terpadu di SD. Untuk tenaga pengajarnya jika belum ada bisa diambil dari tenaga guru SD mengajar ke SMP.
Menurutnya tidak perlu membangun gedung baru. Sementara bisa menggunakan gedung SD. Pola ini kata Rita bisa diterapkan. Seperti kasus lain pernah ia temukan seperti ini. Dimana ia terkendala membangunkan SMA karena di daerah terpencil. Jalan solusinya SMA tersebut menumpang di gedung SMP.
“Prinsip saya semua anak harus sekolah. Saya tak ingin ada anak putus sekolah, dosa saya kalau anak-anak hanya tamatan SD,” ujarnya.
Iapun berjanji akan memperjuangkan persoalan ini. Sepulang dari Tanjung Lokang, ia akan berdiskusi dengan Kadis Pendidikan Kapuas Hulu, kemudian akan memperjuangkan ini di DPRD Provinsi Kalbar.(selesai)